Pada awal 2026, Iran diguncang oleh gelombang demonstrasi besar-besaran yang dimulai sejak akhir Desember 2025. Protes ini, yang menyebar ke lebih dari 190 kota di seluruh 31 provinsi, telah menewaskan ratusan hingga ribuan orang menurut berbagai laporan hak asasi manusia dan media independen.
Apa yang awalnya dipicu oleh krisis ekonomi kini berkembang menjadi tuntutan perubahan rezim, dengan slogan-slogan anti-pemerintah yang semakin radikal.
1. Penyebab Utama: Krisis Ekonomi yang Menghancurkan
Demonstrasi ini tidak muncul dari ketiadaan, melainkan akumulasi dari masalah struktural yang telah lama memburuk. Penyebab utamanya adalah kolaps ekonomi yang parah:
2. Penurunan Nilai Mata Uang dan Inflasi Tinggi
Nilai rial Iran anjlok ke level terendah sepanjang sejarah, mencapai lebih dari 1,4 juta rial per dolar AS pada akhir 2025—penurunan 56% dalam enam bulan. Inflasi tahunan mencapai 40-72% untuk barang kebutuhan pokok seperti makanan, minyak goreng, ayam, daging, beras, dan bensin. Harga makanan melonjak 60-70%, membuat kehidupan sehari-hari tak terjangkau bagi jutaan rakyat biasa.
3. Pemotongan Subsidi dan Sanksi Internasional
Pemerintah menghapus kurs preferensial untuk importir (kecuali obat dan gandum), menyebabkan kelangkaan barang dan kenaikan harga mendadak. Anggaran negara yang diajukan memangkas subsidi sambil meningkatkan belanja keamanan hingga 150%.
Sanksi internasional yang diberlakukan kembali oleh PBB pada September 2025 atas program nuklir Iran, ditambah aset beku di luar negeri, semakin memperburuk situasi. Pengeluaran besar untuk konflik regional, termasuk pendanaan proxy seperti Hamas, Hizbullah, dan Houthi, dianggap prioritas rezim daripada kesejahteraan rakyat.
4. Dampak Konflik 2025
Perang singkat 12 hari dengan Israel pada Juni 2025, yang melibatkan 360 serangan Israel ke situs nuklir Iran dan pembunuhan tokoh kunci, memperlemah militer Iran dan menguras sumber daya. Meskipun protes tidak langsung tentang perang itu, prioritas rezim dalam membiayai keamanan daripada kesejahteraan publik memperburuk kemarahan masyarakat.
Masalah-masalah ini mirip dengan pemicu demonstrasi sebelumnya, seperti 2022 setelah kematian Mahsa Amini, di mana keluhan ekonomi berubah menjadi tuntutan kebebasan dan perubahan rezim.
2.000 Orang Tewas Akibat Demontrasi
Penindasan rezim telah menyebabkan korban jiwa yang masif. Kelompok hak asasi seperti Iran Human Rights melaporkan setidaknya 500-648 kematian pengunjuk rasa, termasuk anak-anak, dengan estimasi hingga 6.000 menurut sumber oposisi.
Beberapa laporan menyebut lebih dari 2.000 tewas dalam 48 jam di tengah pemadaman internet, meskipun angka ini masih diverifikasi. Lebih dari 10.000 orang ditangkap, dengan pasukan keamanan menggunakan peluru tajam, gas air mata, dan penangkapan massal. Media negara melaporkan 100+ anggota keamanan tewas, sementara oposisi mengklaim korban sipil jauh lebih tinggi.