JAKARTA – Amerika Serikat (AS) menunjukkan sejumlah indikasi kuat bahwa serangan militer terhadap Iran semakin mendekati kenyataan. Langkah-langkah pencegahan seperti peningkatan kewaspadaan di kedutaan dan pemindahan personel dari pangkalan utama di kawasan menjadi sinyal paling jelas, di tengah eskalasi ancaman dari Presiden Donald Trump terkait penindasan brutal demonstrasi di Iran.
Situasi di Timur Tengah diprediksi semakin memanas, dengan potensi konflik baru yang dapat melibatkan AS, Israel, dan Iran. Berikut lima tanda utama yang menunjukkan ketegangan berada pada titik kritis.
Kedutaan Besar AS di Arab Saudi Tingkatkan Kewaspadaan
Kedutaan Besar AS di Arab Saudi mengeluarkan peringatan kepada personelnya untuk meningkatkan kewaspadaan dan membatasi perjalanan non-esensial ke instalasi militer di kawasan. Peringatan ini dikeluarkan menyusul ketegangan regional yang terus meningkat akibat ancaman AS terhadap Iran pasca-penindasan mematikan terhadap demonstran.
“Mengingat ketegangan regional yang sedang berlangsung, misi AS di Arab Saudi telah menyarankan personelnya untuk meningkatkan kewaspadaan dan membatasi perjalanan yang tidak penting ke instalasi militer mana pun di wilayah tersebut. Kami merekomendasikan warga negara Amerika di Kerajaan untuk melakukan hal yang sama,” demikian pernyataan kedutaan yang dilansir berbagai media internasional.
Pemindahan Personel AS dari Pangkalan Al Udeid di Qatar
Qatar mengonfirmasi pemindahan sebagian personel dari Pangkalan Udara Al Udeid, basis militer AS terbesar di Timur Tengah yang menampung sekitar 10.000 pasukan. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap “ketegangan regional saat ini”.
Kantor Media Internasional Qatar menyatakan bahwa negara tersebut terus menerapkan berbagai upaya untuk menjaga keamanan warga dan penduduknya sebagai prioritas utama, termasuk perlindungan infrastruktur vital dan fasilitas militer. Pemindahan ini dinilai mirip dengan langkah pencegahan sebelum serangan AS ke Iran pada Juni tahun lalu.
Jalur Komunikasi Tingkat Tinggi AS–Iran Terputus
Kontak langsung antara pejabat senior AS dan Iran dilaporkan terhenti di tengah ancaman intervensi militer Washington. Seorang pejabat senior yang tidak disebutkan namanya mengungkapkan kepada Reuters bahwa komunikasi antara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Utusan Khusus AS Steve Witkoff telah terputus.
Kondisi ini terjadi bersamaan dengan retorika Presiden Trump yang semakin keras, termasuk ancaman campur tangan militer jika penindasan demonstrasi berlanjut.
Israel Tetap dalam Status Siaga Tinggi
Militer Israel menyatakan terus siaga menghadapi “skenario kejutan” terkait kerusuhan di Iran. “Protes di Iran adalah masalah internal,” tulis juru bicara militer Israel, Brigadir Jenderal Effie Defrin, di platform X.
Israel sebelumnya telah menyerang Iran pada Juni lalu, memicu perang selama 12 hari yang menewaskan hampir 1.200 warga Iran dan puluhan warga Israel. Dalam sepekan terakhir, Iran kembali mengancam akan membalas jika AS atau Israel melancarkan serangan baru.
Iran Klaim Siapkan “Banyak Kejutan” untuk Penyerang
Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Aziz Nasirzadeh menegaskan bahwa negaranya memiliki “banyak kejutan” bagi setiap musuh yang berani menyerang. Pernyataan ini disampaikan menyusul peningkatan ancaman dari Presiden Trump di tengah kerusuhan mematikan di Iran.
“Jika ancaman ini berubah menjadi tindakan, kami akan membela negara dengan kekuatan penuh dan sampai tetes darah terakhir, dan pembelaan kami akan menyakitkan bagi mereka,” kata Nasirzadeh dalam pertemuan keamanan, menurut Press TV.
Ia juga memperingatkan bahwa negara mana pun yang membantu serangan terhadap Iran akan menjadi target yang sah. Menurutnya, kerusakan akibat perang 12 hari pada Juni lalu sebagian besar telah diperbaiki, dan kapasitas produksi militer Iran justru meningkat.
Potensi Eskalasi
Eskalasi ini dipicu oleh demonstrasi besar-besaran di Iran sejak akhir Desember 2025, yang dipicu krisis mata uang dan tuntutan perubahan rezim. Kelompok hak asasi manusia melaporkan ribuan korban jiwa akibat penindasan aparat.
Trump berulang kali menyatakan akan bertindak tegas jika pembunuhan demonstran berlanjut, sementara Teheran menyalahkan campur tangan asing. Situasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah di ujung tanduk, dengan risiko konflik regional yang lebih luas semakin nyata. Seluruh pihak terus memantau perkembangan, sementara upaya diplomatik regional berusaha mencegah pecahnya perang baru.