JAKARTA – Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengumumkan kemajuan signifikan dalam pemulihan infrastruktur pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak sekitar 52 hari lalu. Per 15 Januari 2026, seluruh wilayah terdampak di ketiga provinsi tersebut telah terbebas dari isolasi. Distribusi bantuan kemanusiaan dan logistik kini dapat dilakukan sepenuhnya melalui jalur darat tanpa lagi bergantung pada pengiriman melalui udara.
“Seperti hari ini masih ada jembatan yang rusak parah sekali, ruas Sibolga. Kita masih bisa memakai jalan dengan sedikit memutar melalui jalan provinsi, sehingga boleh dibilang untuk Sumatera Utara itu sudah tidak ada lagi daerah yang terisolasi. Begitu juga dengan Aceh dan Sumatera Barat,” ujar Dody dalam konferensi pers di Kantor Kementerian PU, Jakarta Selatan, Jumat (16/1/2026).
Meski akses utama telah pulih, Dody mengakui sejumlah titik infrastruktur nasional dan daerah masih memerlukan perbaikan intensif. Kementerian mencatat bencana tersebut merusak 99 ruas jalan nasional serta 33 jembatan nasional. Saat ini, seluruh infrastruktur nasional tersebut telah beroperasi secara fungsional, meskipun beberapa masih menggunakan jalur pengalihan sementara.
Untuk infrastruktur tingkat daerah, dampaknya jauh lebih luas dengan total 2.710 unit terdampak, terdiri dari 1.900 ruas jalan daerah dan 753 jembatan daerah. Saat ini sekitar 72 persen jalan daerah telah kembali berfungsi. Namun, kondisi jembatan daerah masih kritis, dengan baru 12 persen yang fungsional.
“Jalan daerah yang sudah bisa fungsional itu sekitar 72 persen. Nah, jembatan daerah yang masih sangat minim, baru 12 persen. Karena ambles, banyak yang membutuhkan jembatan Bailey dan Aramco. Jadi, kita bekerja hand in hand terus-menerus dengan TNI, Polri, dan masyarakat agar urusan jembatan ini bisa kita selesaikan dalam waktu sesingkat-singkatnya,” tambahnya.
Selain konektivitas darat, pemulihan juga difokuskan pada normalisasi sungai. Tercatat 121 sungai nasional dan 51 sungai daerah mengalami kerusakan akibat sedimentasi, penumpukan kayu, serta pendangkalan. Upaya normalisasi terus digencarkan, termasuk pembersihan muara sungai yang krusial bagi nelayan setempat.
“Fokus utama kita di sungai itu selain normalisasi, juga muara-muara harus kita bereskan. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah nelayan. Hampir semua muara tertutup kayu dan sedimen, itu harus kita tangani. Namun pada kenyataannya tidak mudah karena membutuhkan peralatan yang memadai,” jelas Dody.
Di sektor penyediaan air bersih, bencana juga melumpuhkan 179 unit PDAM/SPAM di ketiga provinsi. Selama masa tanggap darurat dan transisi, sebanyak 89 unit telah kembali beroperasi secara fungsional, meskipun belum optimal.
“Fungsional ini maksudnya belum 100 persen, karena intake-nya hampir semua bermasalah,” pungkasnya.
Pemerintah melalui Kementerian PU terus berkoordinasi lintas sektor untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi guna mengembalikan kehidupan normal masyarakat Sumatera yang terdampak bencana. Pemantauan dan penanganan prioritas infrastruktur dasar tetap menjadi fokus utama dalam tahap pemulihan ini.