Seorang siswa kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, berinisial YBS, meninggal dunia pada Kamis (29/1), meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan warga Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu.
Anak berusia 10 tahun itu dikenal sebagai pribadi pendiam, sopan, dan rajin belajar, meski hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Sehari sebelum peristiwa tersebut, YBS sempat meminta ibunya untuk dibelikan buku dan pensil. Permintaan sederhana itu belum dapat dipenuhi karena kondisi keuangan keluarga yang serba kekurangan. Ayah YBS telah meninggal dunia sejak ia masih dalam kandungan.
Camat Jerebuu Bernardus H. Tage mengatakan, berdasarkan keterangan warga sekitar, YBS tidak pernah menunjukkan perilaku bermasalah. “Dia anak baik, jarang terlihat murung, dan cukup tekun belajar meskipun hidup dalam kondisi yang sangat terbatas,” ujarnya.
Tinggal Bersama Nenek Lansia
Selama ini, YBS tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun, sementara sang ibu tinggal di kampung lain bersama lima anaknya. Menurut Bernardus, kondisi ini membuat YBS jarang mendapatkan perhatian penuh.
“Malam sebelumnya dia menginap di rumah ibunya. Pagi hari sekitar pukul 06.00 Wita, anak itu diantar tukang ojek kembali ke rumah neneknya,” jelas Bernardus.
Pagi itu, warga sempat melihat YBS duduk di depan rumah—padahal ia seharusnya berangkat ke sekolah. Beberapa jam kemudian, warga yang melintas di sekitar rumah neneknya menemukan YBS telah meninggal dunia dan segera melaporkannya kepada aparat setempat.
Ibu korban, MGT (47), menuturkan bahwa sebelum berpisah, ia sempat menasihati anaknya agar tetap rajin bersekolah, sembari menjelaskan kondisi ekonomi keluarga yang sedang sulit. “Saya bilang ke dia, sekarang cari uang memang tidak mudah,” ujarnya lirih.
Ditemukan Surat Perpisahan
Polres Ngada mengonfirmasi bahwa di lokasi kejadian ditemukan secarik kertas bertuliskan pesan perpisahan dengan tulisan tangan YBS, menggunakan bahasa daerah setempat, yang ditujukan kepada ibunya dan keluarga.
Pesan tersebut kini menjadi bagian dari pendalaman aparat dalam penanganan kasus ini.
Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama (Selamat tinggal mama)
Peristiwa ini menggugah keprihatinan banyak pihak tentang pentingnya perlindungan anak, perhatian terhadap kesehatan mental, serta dukungan sosial bagi keluarga yang hidup dalam kemiskinan ekstrem.
Catatan penting: Jika Anda atau orang di sekitar Anda sedang mengalami tekanan emosional berat, jangan menghadapi sendiri. Bantuan tersedia melalui layanan konseling setempat, tenaga kesehatan, atau saluran bantuan psikologis di daerah Anda.
