JAKARTA – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa industri manufaktur kini menjadi tulang punggung ekonomi nasional, memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas keuangan negara dan mendorong pertumbuhan jangka panjang.
Berdasarkan laporan terbaru Badan Pusat Statistik, kontribusi sektor pengolahan terhadap struktur ekonomi terus meningkat, kini mencapai 19,07 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
“Industri pengolahan tidak hanya menjadi kontributor terbesar terhadap perekonomian. Sektor ini juga mendominasi pertumbuhan ekonomi nasional dibanding sektor lainnya,” ujar Menperin di Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Agus menjelaskan, laju pertumbuhan manufaktur nasional melonjak hingga 5,30 persen, mengungguli performa dua tahun sebelumnya yang sempat melambat akibat tekanan eksternal dan penyesuaian pasar.
Data pemerintah mencatat, bidang ini menyumbang sekitar 1,07 persen pada total pertumbuhan ekonomi nasional, menjadi motor utama dalam memperkuat daya tahan industri dalam negeri.
“Jadi berdasarkan data BPS ini, terjadi kenaikan ekspor dan penurunan tren impor dalam tiga tahun terakhir. Hal ini membuktikan bahwa penguatan struktur industri nasional sudah terjadi,” tutur Agus.
Peningkatan nilai ekspor yang mencapai 7,03 persen memperlihatkan kinerja sektor industri nasional yang semakin efisien, sementara ketergantungan pada impor mulai menurun berkat peningkatan kapasitas produksi domestik.
Menperin menyebut, dorongan kebijakan pemerintah untuk memperkuat struktur industri berdampak langsung pada kinerja neraca perdagangan dan memacu daya saing produk nasional di pasar global.
“Sesuai arahan Bapak Presiden untuk memperkuat industri kecil, kami akan meningkatkan integrasi Industri Kecil ke dalam rantai pasok Industri Nasional. Hal ini tidak saja untuk memperkuat kemandirian industri dalam negeri tapi juga untuk pemerataan ekonomi nasional,” ucapnya.
Ia menambahkan, pemerintah berkomitmen menghubungkan industri kecil dan menengah dengan jaringan manufaktur besar guna membangun ekosistem industri yang inklusif dan berdaya saing tinggi.
Kebijakan tersebut sekaligus mendukung visi Asta Cita dan Strategi Baru Industri Nasional (SBIN) yang menekankan transformasi ekonomi berbasis nilai tambah serta penciptaan lapangan kerja berkualitas.
Dengan struktur ekonomi yang semakin tangguh, Agus optimistis industri nasional siap menghadapi gejolak global dan melanjutkan tren pertumbuhan positif yang telah dibangun sepanjang tahun 2025.
“Pada tahun 2025, industri pengolahan mengalami tantangan yang sangat berat. Namun berkat arahan Bapak Presiden melalui Asta Cita dan diterjemahkan ke dalam Strategi Baru Industri Nasional (SBIN),” kata Agus menutup pernyataan.***