JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk membawa Indonesia keluar dari kemiskinan dengan mengutip Surat Ar-Ra’d ayat 11. Ia menekankan bahwa perubahan nasib bangsa hanya mungkin jika rakyat sendiri yang memulai perubahan.
“Seperti yang diingatkan dalam Surat Ar-Ra’d ayat 11, Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum tersebut mengubah keadaan diri mereka sendiri,” katanya, Sabtu (7/2/2026).
Prabowo juga mengajak seluruh elemen bangsa bersatu menghadapi tantangan nasional, termasuk memberantas korupsi dan menjaga kekayaan alam.
Prabowo menyoroti kekayaan alam Indonesia sebagai anugerah Ilahi yang harus dikelola dengan bijak, sambil mengakui masih ada kelemahan. “Bangsa kita masih menghadapi tantangan, namun kita harus berani, bertekad, dan bersama-sama menghilangkan kemiskinan dari bumi Indonesia,” ujarnya.
Menurut Prabowo, kekayaan alam yang melimpah menjadi modal utama, tetapi tantangannya terletak pada kemampuan bangsa dalam menjaganya. “Kita diberi kekayaan luar biasa oleh Yang Maha Kuasa. Tantangannya adalah apakah kita mampu menjaga dan mengelola kekayaan tersebut dengan berani menghadapi kesulitan dan mengakui kelemahan bangsa,” katanya.
Pernyataan ini sejalan dengan upaya pemerintah baru memperkuat ekonomi nasional di tengah kemiskinan yang masih menimpa jutaan warga.
Presiden juga menyerukan persatuan di kalangan pemimpin untuk melindungi republik dan aset nasional. “Saya mengajak seluruh bangsa dan terutama para pemimpin untuk bersatu, menjaga republik ini, menjaga kekayaan bangsa, dan berani memberantas korupsi dari bumi Indonesia,” tegasnya.
Ia mengakui proses ini penuh rintangan karena pelaku korupsi sering membalas dengan provokasi. “Memang tidak mudah, karena tiap kali kita menegakkan hukum, kelompok koruptor dan perampok akan menyerang balik. Mereka selalu ingin adu domba, tapi kita tidak boleh gentar,” tambah Prabowo, menunjukkan ketegasan dalam penegakan hukum.
Prabowo menegaskan kewajibannya berdasarkan sumpah jabatan. “Saya telah disumpah untuk menegakkan hukum dan undang-undang. Karena itu, saya tidak akan ragu atau mundur,” katanya. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada MUI atas dukungan moral yang diberikan. “Terima kasih Majelis Ulama Indonesia atas suntikan keberanian sehingga kita yakin Ulama dan Umaroh bersatu akan menegakkan keadilan di bumi Indonesia,” ucapnya.
Puncak pidato Prabowo adalah kutipan dari Surat Ar-Ra’ad ayat 11, yang menjadi fondasi pesannya. “Seperti yang diingatkan dalam Surat Ar-Ra’ad ayat 11, Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum tersebut mengubah keadaan diri mereka sendiri,” jelasnya. Ayat ini, menurut Prabowo, sangat relevan dengan tema acara.
“Hari ini, Ulama dan Umaroh menyatakan bersatu dalam munajat untuk keselamatan bangsa. Tema ini sangat tepat dan menjawab masalah yang kita hadapi,” lanjutnya.
Prabowo menekankan bahwa keselamatan bangsa bergantung pada persatuan sejati, bukan sekadar retorika. “Keselamatan bangsa hanya bisa dicapai kalau kita bersatu, hilangkan curiga, perbedaan masa lalu, dan rasa benci,” katanya. Ia membedakan antara kompetisi sehat dan permusuhan. “Perbedaan dan persaingan adalah baik, tapi setelah bersaing mari kita bersatu,” ajaknya, mendorong rekonsiliasi nasional pasca-pemilu.
Lebih lanjut, presiden memuji sikap toleran umat Islam di Indonesia sebagai teladan global. “Kita hormati semua umat dan kaum, itulah contoh yang diberikan ulama-ulama Indonesia,” ujarnya. Pidato ini menegaskan posisi Indonesia sebagai negara Muslim terbesar yang mempromosikan kedamaian. “Sekarang kita menjadi contoh bagi seluruh dunia: umat Islam yang sejuk, mengutamakan perdamaian, menegakkan keadilan, dan tidak menebarkan kebencian,” pungkas Prabowo.
Pidato ini hadir di tengah upaya pemerintah Prabowo-Gibran mengatasi kemiskinan struktural melalui program pemberdayaan ekonomi dan anti-korupsi. Analis politik menilai pesan persatuan ini bisa menjadi katalisator stabilitas nasional, terutama setelah dinamika politik belakangan. Acara MUI dihadiri ribuan ulama dan tokoh masyarakat, menandai kolaborasi erat antara agama dan negara dalam membangun Indonesia maju.
