JAKARTA – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menyatakan harapannya agar pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat segera berlanjut, tapi menegaskan kembali garis merah Teheran terkait program rudal. Dalam wawancara dengan Al Jazeera yang dikutip dari Hurriyet Daily News, Minggu (8/2/2026), Araghchi menekankan bahwa program rudal Iran “tidak pernah dapat dinegosiasikan” karena menyangkut masalah pertahanan.
Ia juga memperingatkan bahwa Iran akan menargetkan pangkalan AS di kawasan jika Washington menyerang wilayahnya. Meski begitu, Araghchi menyebut pertemuan tidak langsung di Muscat sebagai “awal yang baik” dan membuka peluang untuk membangun kepercayaan. Ia menambahkan pembicaraan akan dilanjutkan dalam waktu dekat.
Presiden AS, Donald Trump menyebut pertemuan itu “sangat baik” dan berjanji menggelar putaran berikutnya pekan depan. Namun, Washington tetap menekan Iran dengan sanksi baru terhadap entitas dan kapal pengiriman, serta perintah eksekutif yang memberlakukan tarif bagi negara-negara yang masih berbisnis dengan Teheran.
Araghchi menegaskan bahwa pengayaan nuklir adalah “hak yang tak dapat dicabut” Iran dan hanya bisa diselesaikan melalui negosiasi. Ia menolak upaya memperluas pembahasan ke isu rudal balistik maupun dukungan Iran terhadap kelompok militan, sebagaimana didorong Israel.
Pembicaraan ini merupakan yang pertama sejak kegagalan negosiasi tahun lalu, yang diwarnai kampanye pengeboman Israel terhadap Iran dan memicu perang 12 hari. Araghchi menutup dengan kritik terhadap “doktrin dominasi” yang menurutnya memberi Israel keleluasaan memperluas persenjataan militer, sementara negara lain ditekan untuk melucuti senjata.
