Kepemimpinan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, kini berada di titik nadir. Skandal besar yang melibatkan dokumen mendiang predator seksual Jeffrey Epstein telah memicu eksodus di lingkaran dalamnya, membuat posisi pemimpin Partai Buruh ini berada di ujung tanduk.
Runtuhnya Pilar Utama Downing Street
Krisis ini memuncak setelah Morgan McSweeney, Kepala Staf sekaligus arsitek kemenangan telak Partai Buruh pada 2024, resmi mengundurkan diri. McSweeney mengaku bertanggung jawab atas keputusannya merekomendasikan Peter Mandelson sebagai Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat.
Penunjukan Mandelson berubah menjadi bumerang mematikan setelah dokumen terbaru mengungkap kedekatan Mandelson dengan Epstein. Mandelson diduga membocorkan rahasia pasar yang sensitif kepada Epstein pada tahun 2008 saat ia masih menjabat di pemerintahan.
“Keputusan menunjuk Peter Mandelson adalah kesalahan fatal. Dia telah merusak partai, negara, dan kepercayaan publik,” ujar McSweeney dalam pengakuan jujurnya yang dikutip The Guardian.
Skandal Politik Terburuk dalam Sejarah
Sejarawan terkemuka Inggris, Anthony Seldon, menyebut kebocoran dokumen ini sebagai “skandal politik terburuk yang pernah dialami Inggris.” Dampaknya tidak hanya mencoreng integritas London, tetapi juga menciptakan isolasi politik bagi Starmer yang kini kehilangan sekutu terdekatnya.
Tekanan kian berat setelah Anas Sarwar, pemimpin Partai Buruh Skotlandia, menjadi tokoh senior pertama yang secara terbuka mendesak Starmer untuk mundur. “Gangguan ini harus berakhir. Downing Street butuh kepemimpinan baru demi stabilitas negara,” tegas Sarwar.
Membayang-bayangi Rekor Pergantian PM
Sejarah mencatat bahwa sejak 2016, politik Inggris telah “melahap” enam Perdana Menteri akibat tekanan internal dan skandal. Starmer kini dibayangi fenomena “herd instinct” atau insting kawanan—istilah yang pernah dipopulerkan Boris Johnson untuk menggambarkan betapa cepatnya para loyalis partai berbalik arah jika sang pemimpin dianggap telah menjadi beban.
Nasib politik Starmer kini diprediksi bergantung sepenuhnya pada hasil pemilihan lokal di Skotlandia, Wales, dan Inggris pada Mei mendatang. Jika Partai Buruh mengalami kekalahan telak, faksi-faksi internal yang dipimpin oleh rival potensial seperti Wes Streeting atau Angela Rayner diperkirakan akan segera bergerak untuk mengambil alih kendali kekuasaan.
