Sultan Ahmed bin Sulayem, Ketua dan CEO raksasa logistik global DP World, diketahui menjalin korespondensi pribadi dengan Jeffrey Epstein selama lebih dari satu dekade setelah Epstein menjalani hukuman pada 2008. Fakta ini terungkap dari dokumen resmi Departemen Kehakiman Amerika Serikat yang baru-baru ini dipublikasikan.
Berkas tersebut merupakan bagian dari lebih dari tiga juta halaman dokumen yang dirilis pada 30 Januari 2026 berdasarkan Undang-Undang Transparansi Berkas Epstein. Dalam dokumen itu, bin Sulayem—salah satu eksekutif paling berpengaruh di Dubai—muncul sebagai salah satu koresponden paling aktif dalam jaringan komunikasi Epstein, dengan pertukaran pesan yang berlangsung hingga kurang dari setahun sebelum kematian Epstein pada 2019.
Isi Korespondensi yang Bersifat Vulgar
Sejumlah email yang ditelaah oleh Financial Times menunjukkan bahwa komunikasi antara bin Sulayem dan Epstein kerap berisi percakapan bernada kasar dan seksual, termasuk pembahasan eksplisit mengenai perempuan.
Dalam sebuah email pada Juni 2013, bin Sulayem mengirimkan informasi pribadi terperinci tentang seorang perempuan yang ditemuinya di Paris—mulai dari usia, tinggi badan, berat badan, hingga ukuran bra—seraya meminta pendapat Epstein. Dalam pesan lain, setelah menyinggung soal agama, ia menulis bahwa dirinya akan “mencicipi perempuan Rusia yang segar 100 persen” di kapal pesiarnya.
Dokumen juga mencatat Epstein sempat mengirimkan tautan layanan escort di Italia, yang ditanggapi bin Sulayem dengan satu kata singkat: “Wow”. Dalam email lainnya, bin Sulayem menulis soal kedatangan dua perempuan, menyebut salah satunya “mengecewakan” karena tidak sesuai foto, sementara yang lain dipuji karena kecantikannya.
Selain itu, korespondensi tersebut menunjukkan Epstein sempat memberi saran kepada bin Sulayem terkait pelantikan pertama Donald Trump pada 2017. Bin Sulayem menanyakan kemungkinan berjabat tangan dengan Trump, yang disarankan Epstein untuk dibahas lebih lanjut melalui sambungan telepon.
Foto Kain Suci Picu Kemarahan Dunia Muslim
Salah satu temuan paling kontroversial dalam berkas tersebut adalah sebuah foto tahun 2014 yang memperlihatkan bin Sulayem dan Epstein berdiri di bawah tangga, menatap ke arah selembar kain yang menyerupai Kiswah—kain hitam bersulam emas yang menutupi Ka’bah di Mekah—yang terbentang di lantai.
Dalam foto itu, kedua pria tampak memasukkan tangan ke dalam saku, sementara kain suci tersebut diletakkan di bawah kaki mereka. Gambar ini memicu kemarahan luas di kalangan umat Muslim di berbagai negara, mengingat Kiswah memiliki makna religius yang sangat sakral.
Setiap tahun, Kiswah dilepas dan diganti saat musim haji, sementara potongan kain lama diperlakukan sebagai artefak keagamaan bernilai tinggi. Dokumen terpisah bahkan menunjukkan bahwa pada 2017, potongan Kiswah dikirim dari Arab Saudi ke kediaman Epstein di Amerika Serikat.
Reaksi keras membanjiri media sosial, dengan banyak pihak mempertanyakan bagaimana simbol suci Islam bisa berada dalam konteks tersebut. Sejumlah media internasional menggambarkan foto itu sebagai bentuk pelecehan terhadap simbol agama, mengingat latar belakang kriminal Epstein.
DP World Pilih Bungkam
Hingga kini, DP World menolak memberikan komentar atas pengungkapan dokumen tersebut. Perusahaan yang dimiliki oleh keluarga penguasa Dubai itu mengelola jaringan pelabuhan dan infrastruktur logistik global, mempekerjakan lebih dari 100.000 orang di berbagai negara, serta mengendalikan proyek-proyek strategis bernilai miliaran dolar, termasuk ekspansi London Gateway di Inggris.
Bin Sulayem menjabat sebagai Ketua DP World sejak 2007 dan CEO grup sejak 2016. Tidak terdapat catatan publik yang menunjukkan bahwa ia pernah didakwa atau diselidiki secara resmi terkait kejahatan-kejahatan Epstein.