Siapa sangka, baris-baris puisi indah yang lahir di sela-sela kepulan debu jalanan dan ketatnya waktu mengantar makanan, justru berhasil mengantarkan Wang Jibing meraih salah satu penghargaan sastra tertinggi di Tiongkok.
Buku kumpulan puisinya yang berjudul Low Flight (Terbang Rendah)—sebuah karya yang terinspirasi dari kerasnya realitas hidup para kurir makanan sehari-hari—resmi dianugerahi Lu Xun Literary Prize. Penghargaan ini diambil dari nama bapak sastra modern Tiongkok, sebuah pengakuan yang luar biasa bagi seorang pekerja paruh waktu.
“Saya sempat menahan napas dan merasa sangat gugup… Begitu pemenangnya diumumkan, barulah semuanya terasa lega,” ungkap Wang (56) saat diwawancarai media setempat pada 15 Juli 2026, sembari mengakui bahwa sorotan media sempat membuatnya tertekan secara mental.
Perjalanan Hidup: Dari Kuli Bangunan hingga Pengumpul Sampah
Kesuksesan Wang tidak datang dalam semalam. Pria kelahiran Provinsi Jiangsu ini terpaksa putus sekolah sejak remaja karena himpitan ekonomi keluarga. Sebelum akhirnya menjadi kurir makanan pada tahun 2019, ia telah mencicipi pahit getirnya menjadi pekerja kasar.
Ia pernah bekerja di proyek konstruksi (kuli bangunan), pernah menjadi pemulung dan mengumpulkan barang bekas dan berdagang asongan di pinggir jalan.
Meski fisiknya diperas oleh pekerjaan kasar, kecintaan Wang pada buku tidak pernah padam. Selama satu dekade terakhir, ia konsisten membagikan puisi dan esai gubahannya di media sosial.
Pada tahun 2022, puisinya yang berjudul Man in a Hurry viral di internet. Puisi itu ditulis berdasarkan pengalaman pahitnya pada 2019, saat ia harus berputar-putar selama berjam-jam demi mengantar pesanan karena pelanggan salah memasukkan alamat. Setahun kemudian, buku puisi pertamanya resmi terbit.
Suara Kaum “Terbang Rendah” di Tengah Raksasa Gig Economy
Buku pemenang penghargaan miliknya, Low Flight (2024), ditulis berdasarkan hasil wawancara dan survei langsung yang dilakukan Wang terhadap sekitar 200 rekan sesama kurir. Salah satu kutipan paling menyentuh dalam buku tersebut berbunyi:
“Siapa bilang mengepakkan sayap berarti harus terbang tinggi? Terbang rendah pun tetaplah sebuah penerbangan.”
Wang kini menjadi bagian dari fenomena baru di Tiongkok: bangkitnya para pekerja berkerah biru (buruh kasar) yang menghentak dunia literasi. Karya-karya mereka memberikan jendela bagi publik untuk melihat betapa besarnya tekanan mental dan fisik di dalam pusaran industri gig economy (pekerja lepas/harian) Tiongkok.
Emoh Resign dan Tetap Membumi
Meski nominal hadiah Lu Xun Literary Prize dirahasiakan (sebagai gambaran, pada 2014 hadiahnya mencapai 100.000 Yuan atau sekitar Rp217 juta), Wang menegaskan tidak memiliki niat sedikit pun untuk menggantung jaket kurirnya. Ia berencana untuk terus bekerja mengantar makanan hingga usianya menginjak 60 tahun.
“Secara finansial, saya sebenarnya tidak lagi bergantung pada pekerjaan ini untuk bertahan hidup. Tapi saya menyukai atmosfer kerja di jalanan, dan ini membuat tubuh saya tetap bugar,” jelasnya membumi. “Saya ingin menjalani hidup yang apa adanya, dan penghargaan ini tidak akan pernah mengubah siapa diri saya sebenarnya.”