MIAMI, AS — Sebuah pesawat kargo jenis Boeing 767 yang dioperasikan oleh maskapai 21 Air untuk Amazon Prime Air tergelincir keluar dari landasan pacu di Bandara Internasional Miami, Amerika Serikat, pada Minggu sore waktu setempat. Pesawat yang baru tiba dari San Juan, Puerto Riko, tersebut menerobos batas area bandara, menghantam sejumlah kendaraan di jalan perimeter, dan terbakar.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 14.00 waktu setempat ini merenggut lima nyawa. Selain korban jiwa, lima orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka, di mana tiga di antaranya dalam kondisi kritis dan dua lainnya menjalani perawatan akibat cedera ringan.
Hingga Minggu malam, otoritas setempat belum merilis identitas resmi maupun memastikan apakah para korban tewas merupakan awak di dalam pesawat atau pekerja yang berada di dalam kendaraan yang dihantam.
Proses evakuasi di lokasi kejadian berlangsung dramatis. Kepala Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Miami-Dade, Ray Jadallah, mengungkapkan bahwa pilot dan kopilot sempat terjebak di dalam kokpit saat api berkobar. Petugas juga harus berpacu dengan waktu untuk membebaskan beberapa warga yang terperangkap di dalam mobil, termasuk mengevakuasi seorang korban yang tertindih badan kendaraan.
Kebakaran dipicu oleh kobaran api di bagian mesin yang sempat menyulitkan penanganan. Petugas memadamkan api menggunakan semprotan busa khusus dari armada pemadam bandara. Meski struktur utama pesawat relatif utuh dan berhenti di tepi jalan dekat dua truk trailer, petugas tetap bersiaga di lokasi hingga beberapa jam pascagejala kebakaran guna menangani bahaya kebocoran bahan bakar.
Dugaan Cuaca Buruk dan Penyelidikan NTSB
Penyebab pasti kecelakaan ini masih dalam proses investigasi. Kendati demikian, faktor cuaca ekstrem diduga turut memengaruhi pendaratan. Data Badan Cuaca Nasional AS (National Weather Service) mencatat bahwa saat insiden terjadi, wilayah sekitar bandara tengah diterjang badai petir disertai hembusan angin kencang hingga 48 kilometer per jam (30 mil per jam).
Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB) mengonfirmasi telah mengutus tim penyelidik yang dipimpin langsung oleh Ketua NTSB, Jennifer Homendy, untuk mengusut tuntas penyebab kecelakaan.
Pihak Amazon menyatakan duka cita mendalam atas tragedi tersebut dan berkomitmen untuk kooperatif dalam seluruh proses investigasi.
“Kami sangat berduka mengetahui lima orang kehilangan nyawa dalam insiden hari ini di Bandara Internasional Miami. Kami menyampaikan simpati terdalam kepada keluarga, orang-orang terdekat, dan semua pihak yang terdampak oleh kehilangan yang sangat memilukan ini,” tulis Amazon dalam pernyataan resminya.
Sorotan Pakar Penerbangan dan Dampak Operasional
Analisis terkait prosedur pendaratan disuarakan oleh pakar keselamatan penerbangan sekaligus mantan pilot United Airlines, Steve Arroyo. Ia menjelaskan bahwa pesawat kargo Boeing 767 rute domestik umumnya hanya membawa dua awak, yakni pilot dan kopilot.
Arroyo menegaskan bahwa poin kunci yang harus digali oleh tim penyidik adalah titik awal pendaratan (*touchdown zone*) pesawat di landasan pacu. Menurut standar penerbangan internasional, pesawat idealnya menyentuh landasan pada jarak 3.000 kaki (sekitar 914 meter) pertama.
“Apakah pesawat mendarat di area yang diwajibkan? Jika iya, apa yang terjadi? Apakah berkaitan dengan cuaca atau masalah mekanis?” ujar Arroyo.
Ia juga mempertanyakan keputusan awak pesawat jika memang pendaratan melewati batas aman tersebut. “Jika pesawat mendarat setelah melewati area tersebut, mengapa mereka tidak membatalkan pendaratan dan terbang kembali? Itu merupakan prosedur yang berlaku di seluruh dunia,” tambangnya.
Tragedi ini berimbas signifikan terhadap operasional penerbangan di Bandara Internasional Miami. Data dari situs pemantau FlightAware mencatat lebih dari 160 penerbangan dibatalkan dan hampir 325 penerbangan mengalami penundaan (delay) hingga Minggu malam.
Kejadian ini juga mengejutkan warga dan pekerja di sekitar kawasan bandara. Jackson Lee, seorang pengelola toko elektronik di dekat area tempat kejadian perkara, mengaku kaget saat melihat asap hitam tebal membubung di balik pagar bandara.
“Kami mendengar pesawat lepas landas dan mendarat setiap lima menit. Saya pikir saya sudah terbiasa. Saya tidak pernah menyangka pesawat bisa sampai sedekat ini dengan tempat kami,” ungkap Lee.
Sebagai informasi, pesawat Boeing 767 berusia 32 tahun yang terlibat kecelakaan ini awalnya diproduksi sebagai pesawat penumpang dan telah beroperasi selama lebih dari dua dekade. Berdasarkan data situs pelacak Flightradar24, pesawat tersebut baru dialihfungsikan menjadi armada kargo pada tahun 2015.