Bencana longsor dan banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November 2025 meninggalkan duka mendalam. Ratusan korban jiwa berjatuhan dan jutaan warga terdampak akibat terputusnya akses, rusaknya permukiman, serta lumpuhnya aktivitas ekonomi.
Di balik operasi kemanusiaan berskala besar itu, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menjadi ujung tombak evakuasi.
Dalam acara Indonesia Kita Spesial: Merajut Kebangsaan yang digelar Garuda TV Rabu (11/2), Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Aceh, Ibnu Harris, membagikan pengalaman langsung dari lapangan.
Bergerak Sejak Malam Pertama
Ibnu Harris mengingat betul malam 25 November 2025 sebagai titik awal operasi besar tersebut.
“Pada malam itu kami langsung bergerak melakukan proses evakuasi dan pertolongan kepada masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.
Sejak hari pertama hingga berminggu-minggu kemudian, Basarnas bersama TNI, Polri, Satgas SAR, dan para relawan terus bekerja tanpa henti. Operasi dilakukan dalam berbagai kondisi medan yang ekstrem.
Hingga kini, meskipun masih ada beberapa korban yang dinyatakan hilang, Basarnas berhasil menyelamatkan lebih dari 5.000 orang dalam kondisi selamat.
“Itu hasil kerja bersama. Tanpa kolaborasi semua pihak, mustahil kita bisa menjangkau sebanyak itu,” kata Ibnu.
Menembus Daerah Terisolasi dengan Segala Cara
Banyak wilayah terdampak yang awalnya benar-benar terisolasi akibat longsor dan banjir bandang. Namun bagi Basarnas, tidak ada istilah wilayah yang tidak bisa dijangkau.
Sebagian lokasi dapat ditembus menggunakan kendaraan roda empat, sebagian lainnya hanya bisa dijangkau dengan sepeda motor. Di beberapa titik, tim harus menggunakan jalur air, bahkan dukungan jalur udara. Tak sedikit pula personel yang berjalan kaki menembus lumpur dan reruntuhan.
“Bagi kami, tidak ada kata terisolir. Insyaallah semua daerah bisa kita tembus, baik lewat darat, laut, udara, atau dengan berjalan kaki sekalipun,” tegasnya.
Aceh Tamiang Paling Parah
Salah satu wilayah dengan dampak paling berat adalah Aceh Tamiang. Hingga kini, daerah tersebut masih berada dalam fase tanggap darurat yang dijadwalkan berakhir pada 17 Februari 2026.
Menurut Ibnu, kondisi Aceh Tamiang sudah jauh berubah dibandingkan hari-hari awal bencana. Pemerintah, sektor swasta, dan relawan bahu-membahu mempercepat pemulihan.
“Tentu tidak ada yang berjalan mulus. Kendala pasti ada. Tapi bagi kami, kendala bukan halangan, melainkan tantangan,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya gotong royong dalam menghadapi situasi darurat. Tanpa kerja sama lintas sektor, proses evakuasi dan pemulihan tidak akan berjalan optimal.
Jelang Ramadan, Siaga Bencana Susulan
Bencana ini terjadi menjelang bulan suci Ramadan, ketika mayoritas warga terdampak bersiap menjalankan ibadah puasa dalam kondisi yang jauh dari ideal. Pemerintah telah menyiapkan hunian sementara (huntara) untuk membantu para penyintas.
Namun tantangan belum berakhir. Curah hujan tinggi dan potensi cuaca ekstrem diperkirakan masih berlanjut hingga Maret.
Menghadapi kemungkinan bencana susulan, Basarnas menegaskan kesiapan untuk terus siaga.
“Kita harus terus membahu. Pemerintah, masyarakat, relawan—semua harus bekerja sama. Dengan kebersamaan itu, insyaallah kita siap menghadapi tantangan apa pun,” kata Ibnu.
Hingga hari ini, para relawan dan tim SAR masih berada di garis depan, memastikan bantuan tetap tersalurkan dan proses pencarian terus dilakukan.
Di tengah duka dan keterbatasan, semangat kebersamaan menjadi energi utama untuk bangkit kembali.
