Bencana longsor dan banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November 2025 menyisakan luka mendalam. Ratusan korban jiwa meninggal dunia, jutaan warga terdampak, akses terputus, permukiman rusak, dan roda perekonomian lumpuh.
Di tengah situasi darurat tersebut, Bank Syariah Indonesia (BSI) dan BSI Maslahat turut mengambil peran aktif dalam membantu pemulihan melalui program donasi kemanusiaan.
Dalam acara Indonesia Kita Spesial: Merajut Kebangsaan yang digelar Garuda TV pada Rabu (11/2), SEVP Digital Banking PT Bank Syariah Indonesia (persero) Tbk dan Pembina BSI Maslahat M. Misbahul Munir, menjelaskan bahwa langkah pertama yang dilakukan adalah mengukur dampak bencana secara menyeluruh.
Prioritaskan Keselamatan dan Akses Keuangan
“Yang paling penting tentu keselamatan jiwa. Kemudian kerusakan fisik, instalasi, jaringan telekomunikasi, dan jangan lupa masyarakat tetap membutuhkan dukungan transaksi keuangan,” ujar Misbahul.
Sebagai lembaga keuangan, BSI memastikan layanan perbankan tetap berjalan agar masyarakat terdampak tetap dapat melakukan transaksi, menerima bantuan, dan menjaga stabilitas ekonomi lokal.
Ia menegaskan bahwa Aceh memiliki posisi yang sangat spesial bagi BSI, mengingat penerapan qanun syariah di wilayah tersebut serta kedekatan historis dan emosional dengan perbankan syariah.
“Aceh dan bangsa Indonesia adalah rumah kami. Karena itu kami benar-benar hadir di sana,” katanya.
Kolaborasi Jadi Kunci
BSI menyadari tidak mungkin bekerja sendiri dalam situasi darurat berskala besar. Karena itu, kolaborasi menjadi kata kunci utama.
Menurut Misbahul, berbagai elemen bangsa hadir bersama dalam penanganan bencana, mulai dari TNI, Polri, BUMN, Himbara, Danantara, perusahaan swasta, relawan, hingga Basarnas.
“Semua hadir bersama. Ini yang membanggakan, bahwa kita bergerak sebagai satu bangsa,” ujarnya.
Jaga Tiga Amanah: Syariah, Regulasi, dan NKRI
Sebagai bank syariah, BSI memiliki kewajiban menyisihkan sebagian pendapatannya untuk zakat, infak, sedekah, dan wakaf. Dalam penyalurannya, BSI bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).
Misbahul menegaskan bahwa dalam menjalankan program donasi, BSI menjaga tiga amanah utama:
-
Taat pada syariah – pertanggungjawaban tidak hanya di dunia, tetapi juga secara spiritual.
-
Taat pada regulasi – seluruh proses mengikuti ketentuan hukum dan diaudit secara profesional.
-
Menjaga NKRI – memastikan bantuan mendukung ketahanan dan persatuan bangsa.
Program donasi BSI juga diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) independen serta diawasi oleh lembaga eksternal terkait untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas.
“Amanah dan transparansi adalah prinsip utama kami,” tegasnya.
200 Ton Bantuan, Rp23 Miliar dan Terus Bertambah
Hingga saat ini, program donasi untuk korban bencana di Sumatera menjadi program kemanusiaan terbesar BSI dan BSI Maslahat. Tercatat lebih dari 200 ton bantuan logistik telah dikirimkan ke wilayah terdampak, dengan nilai donasi mencapai sekitar Rp23 miliar dan masih terus bertambah.
“Insyaallah bantuan ini akan terus kami buka dan pastikan sampai kepada saudara-saudara kita di sana,” kata Misbahul.
Di tengah duka dan cobaan, solidaritas menjadi fondasi utama. Bagi BSI dan BSI Maslahat, kehadiran dalam bencana bukan sekadar tanggung jawab institusi, melainkan wujud komitmen moral dan spiritual untuk selalu berada di sisi masyarakat.
