JAKARTA — Perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya dilakukan melalui pertempuran bersenjata. Banyak tokoh besar bangsa memilih pena dan menjadi jurnalis sebagai senjata untuk membangkitkan kesadaran nasionalisme serta mengkritik penjajahan. Mereka menjadi pionir pers nasional yang berpengaruh, meninggalkan warisan berharga hingga kini.
Berikut sembilan pahlawan nasional yang pernah aktif di dunia jurnalistik, dengan kiprah yang patut dikenang:
1. Mohammad Hatta
Wakil Presiden pertama Indonesia ini tetap produktif menulis saat diasingkan oleh Belanda ke Digul dan Banda Neira pada pertengahan 1930-an. Ia rutin mengirim artikel ke koran-koran di Jakarta serta majalah di Medan, Sumatera Utara. Tulisan-tulisannya berisi analisis mendalam yang bersifat edukatif. Ia sengaja menghindari nada politik agar lolos sensor kolonial.
2. Sutan Sjahrir
Bersama Mohammad Hatta, Sjahrir mendirikan surat kabar Daulat Rakyat sebagai wadah untuk mempertahankan semangat perjuangan rakyat. Keduanya aktif menyumbang tulisan di media tersebut hingga akhirnya membentuk organisasi politik PNI Baru pada tahun 1931.
3. Ki Hajar Dewantara
Bapak Pendidikan Nasional ini memulai karier sebagai wartawan dengan gaya tulisan yang komunikatif dan kritis terhadap kolonialisme. Karya terkenalnya berjudul Als ik een Nederlander was memuat sindiran tajam terhadap pemerintah Hindia Belanda, yang akhirnya membuatnya diasingkan.
4. Rohana Kudus
Jurnalis perempuan pertama Indonesia ini lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat, pada 20 Desember 1884. Ia memelopori surat kabar khusus perempuan Soenting Melajoe pada 1912 untuk mencerdaskan masyarakat, terutama kaum hawa. Atas jasanya, pemerintah menganugerahinya gelar pelopor wartawan perempuan Sumatera Barat pada 1974.
5. Tirto Adhi Soerjo
Sebagai perintis kewartawanan modern dan tokoh kebangkitan nasional, Tirto menerbitkan beberapa surat kabar penting. Di antaranya Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijaji (1907), serta Putri Hindia (1908). Ia juga mendirikan Sarekat Dagang Islam untuk memperkuat gerakan ekonomi bumiputra.
6. Agus Salim
Dijuluki The Grand Old Man karena keahlian diplomasinya, Agus Salim juga berkecimpung di dunia pers. Ia pernah menjadi editor di berbagai media seperti Hindia Baroe, Fajar Asia, Moestika, dan Neratja, melengkapi perannya sebagai Menteri Luar Negeri pada masa awal kemerdekaan.
7. Tan Malaka
Selain mengajar anak-anak pekerja perkebunan di Sumatera, Tan Malaka menulis propaganda untuk kaum buruh. Karyanya seperti Tanah Orang Miskin yang mengkritik kesenjangan sosial dimuat di Het Vrije Woord, sementara tulisan tentang nasib kuli terbit di Sumatera Post.
8. Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka)
Ulama, sastrawan, dan politisi ini aktif di dunia jurnalistik serta Partai Masyumi. Hamka menjadi ketua pertama Majelis Ulama Indonesia dan tetap setia di Muhammadiyah hingga akhir hayatnya, dengan kiprah yang mencakup penulisan dan pengajaran.
9. Tjipto Mangoenkoesoemo
Anggota Tiga Serangkai bersama Ki Hajar Dewantara dan Ernest Douwes Dekker ini memperjuangkan swasembada pemerintahan bagi pribumi melalui Indische Partij. Pada 1913, ia diasingkan ke Belanda akibat tulisan dan aktivitas politiknya, sebelum kembali ke tanah air pada 1917.
