JAKARTA – Debut Pedro Acosta di MotoGP pada Maret 2024 di Sirkuit Losail sempat mencuri perhatian. Dalam seri latihan bebas pertama, ia langsung menempel Jorge Martin dan Marc Marquez. Meski tampil agresif pada balapan perdananya, kesalahan kecil membuatnya gagal menciptakan kejutann besar pada usia 19 tahun.
Namun, dua tahun berselang, Acosta masih belum meraih kemenangan di kelas utama, baik dalam format sprint maupun GP jarak jauh. Kesempatan sempat terbuka pada GP Portugal, tetapi ia kehilangan kemenangan hanya dengan selisih 0,120 detik. Meski begitu, lima podium pada masing-masing dua musim bersama KTM menunjukkan konsistensi dan kualitasnya sebagai talenta super.
Tekanan untuk Menang
Bagi Acosta, sekadar berpartisipasi bukanlah tujuan. Kemenangan dan gelar juara dunia adalah yang terpenting. Karakter pembalap asal Spanyol ini menuntut hasil tertinggi, dan dalam dunia balap modern, kesabaran jarang menjadi pilihan. Dua tahun dianggap sebagai batas maksimal untuk membuktikan diri. Kini, Acosta memulai musim ketiganya bersama RC16, dengan harapan bisa meniru jejak Marc Marquez yang langsung merebut mahkota ketika semua elemen berpadu.
KTM vs Ducati
KTM telah membuktikan mampu memenangkan balapan individual, tetapi gelar juara dunia masih sulit diraih meski proyek sudah berjalan satu dekade. Sebaliknya, Ducati Desmosedici mendominasi sejak pertengahan musim 2021, dengan enam gelar konstruktor beruntun dan lima gelar pembalap. Momentum ini membuat Ducati menjadi pilihan paling aman bagi pembalap yang ingin menegaskan status juara dunia.
Dengan reputasi Ducati yang tak terbantahkan, tawaran dari Bologna bisa menjadi kartu truf dalam perebutan masa depan Acosta. Sementara KTM tetap mengandalkan semangat juang, infrastruktur, dan dukungan Red Bull, keputusan Acosta akan menjadi penentu apakah ia tetap bertahan atau mencari jalan menuju mahkota bersama tim yang lebih dominan.
