GAZA, PALESTINA – Hamas menyatakan penolakan tegas terhadap tuntutan pejabat Israel yang meminta pelucutan senjata total dalam waktu 60 hari. Pernyataan tersebut memicu eskalasi retorika di tengah proses gencatan senjata yang masih berlangsung di Jalur Gaza.
Sekretaris Kabinet Israel Yossi Fuchs, yang dikenal sebagai orang dekat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, menyampaikan peringatan itu dalam forum di Yerusalem pada Senin (17/2). Ia mengatakan tenggat 60 hari merupakan permintaan dari pemerintahan Amerika Serikat dan akan dihormati Israel. Fuchs menegaskan, apabila Hamas tidak menyerahkan seluruh persenjataan—termasuk senjata ringan—maka Pasukan Pertahanan Israel (IDF) akan “menyelesaikan misi” di Gaza.
Di pihak lain, Hamas membantah adanya kesepakatan atau pemberitahuan resmi dari mediator terkait ultimatum tersebut. “Pernyataan yang dibuat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu… dan melalui media hanyalah ancaman tanpa dasar dalam negosiasi yang sedang berlangsung,” kata pejabat senior Hamas Mahmoud Mardawi seperti dikutip Al Jazeera Arabic.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera Mubasher, Mardawi menyebut dirinya tidak mengetahui adanya tuntutan pelucutan senjata dari mediator. Ia menilai pernyataan Fuchs sebagai tekanan politik yang tidak mencerminkan substansi pembicaraan damai yang sedang berjalan.
Kontroversi itu mencuat saat gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat masih berlaku. Otoritas kesehatan di Gaza melaporkan ribuan insiden pelanggaran sejak kesepakatan diberlakukan, dengan korban jiwa terus bertambah. Data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat puluhan ribu warga Palestina tewas sejak konflik meletus pada Oktober 2023, sementara ratusan ribu lainnya mengalami luka-luka.
Di tengah ketidakpastian keamanan, kondisi kemanusiaan di Gaza dilaporkan semakin memburuk. Pembatasan distribusi bantuan, keterbatasan pasokan medis, serta kerusakan infrastruktur memperberat situasi warga sipil. Jutaan penduduk disebut menghadapi kesulitan akses terhadap kebutuhan dasar, termasuk pangan, layanan kesehatan, dan tempat tinggal.
Perkembangan terbaru ini berpotensi memengaruhi jalannya negosiasi yang melibatkan sejumlah mediator internasional, di antaranya Amerika Serikat, Mesir, Qatar, dan Turki. Hamas menegaskan tidak menerima notifikasi resmi mengenai batas waktu pelucutan senjata, sementara Israel tetap menyuarakan sikap keras terhadap isu keamanan.
Konflik Gaza terus menjadi sorotan global, dengan desakan luas agar semua pihak menahan diri, menghormati gencatan senjata, dan memastikan perlindungan warga sipil serta kelancaran bantuan kemanusiaan.