JAKARTA – Iran dan Amerika Serikat kembali membuka babak baru perundingan nuklir di Jenewa, Swiss, Selasa (18/2/2026), dengan mediasi Oman. Presiden AS, Donald Trump memperingatkan Teheran akan konsekuensi serius jika gagal mencapai kesepakatan.
Diskusi ini bertujuan mencegah kemungkinan aksi militer AS. Teheran menyatakan optimisme hati-hati atas sikap Washington yang dinilai “lebih realistis” terhadap program nuklir Iran.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan bahwa AS tidak akan berhasil menghancurkan republik Islam. “Dalam salah satu pidatonya baru-baru ini, presiden AS mengatakan bahwa selama 47 tahun Amerika belum berhasil menghancurkan republik Islam… Saya katakan kepada Anda: Anda pun tidak akan berhasil,” ujarnya, dilansir dari Hurriyet Daily News.
Trump sebelumnya berulang kali mengancam intervensi militer, baik terkait penindakan demonstran maupun program nuklir. “Saya rasa mereka tidak ingin menanggung konsekuensi jika tidak mencapai kesepakatan,” katanya kepada wartawan di atas Air Force One.
Diplomasi sempat terhenti setelah Israel melancarkan serangan ke Iran pada Juni 2025, memicu perang 12 hari yang juga melibatkan serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir. Kini, perundingan kembali digelar dengan kedua pihak bertukar pesan melalui mediator Oman.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan keseriusan Teheran menggunakan diplomasi “berorientasi hasil” untuk melindungi kepentingan rakyat Iran. Ia bertemu Menlu Oman Badr Albusaidi dan Kepala Badan Energi Atom Internasional Rafael Grossi di Jenewa untuk membahas isu teknis.
Iran menegaskan pembicaraan hanya akan difokuskan pada isu nuklir, sementara Washington ingin memperluas agenda mencakup rudal balistik dan dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran menggelar latihan militer di Selat Hormuz untuk menghadapi “potensi ancaman keamanan dan militer.” Jalur strategis minyak dan gas itu berulang kali diancam akan diblokir jika tekanan meningkat.
Gedung Putih mengonfirmasi pengiriman utusan Timur Tengah Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, untuk mendukung proses diplomasi. Trump bahkan menyebut perubahan pemerintahan di Iran sebagai “hal terbaik yang bisa terjadi,” sembari mengirim kapal induk kedua ke kawasan.
Wakil Menlu Iran Majid Takht-Ravanchi mengatakan Teheran siap mempertimbangkan kompromi terkait cadangan uranium jika Washington mencabut sanksi yang melumpuhkan ekonomi. “Jika kita melihat ketulusan dari pihak mereka (Amerika), saya yakin kita akan berada di jalan menuju kesepakatan,” ujarnya.