JAKARTA – Militer Iran pada Kamis (9/7/2026) mengklaim telah menyerang lokasi di Kuwait, Qatar, dan Bahrain menggunakan done kamikaze satu arah.
Serangan ini disebut sebagai balasan atas operasi militer Amerika Serikat sebelumnya yang menghantam sekitar 90 target di Iran.
Tentara Iran menyebut serangan itu menargetkan sistem pencegat rudal Patriot di Kuwait, antena peringatan dini di Qatar, serta tangki bahan bakar di Bahrain. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan serangan tersebut merupakan “tahap pertama dari respons hukuman” atas pelanggaran gencatan senjata.
Media pemerintah Iran yang dilansir Türkiyetoday, melaporkan infrastruktur di pangkalan Arifjan dan Ali al-Salem di Kuwait serta pangkalan Juffair dan Sheikh Isa di Bahrain mengalami kerusakan. Sirene peringatan berbunyi dua kali di Bahrain, markas Armada ke-5 Angkatan Laut AS, menandai eskalasi yang lebih besar dibanding hari sebelumnya.
Serangan balasan Iran terjadi beberapa jam setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan telah menghantam sekitar 90 target militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara, lokasi penyimpanan rudal dan drone, serta aset angkatan laut di sepanjang garis pantai. Sehari sebelumnya, AS juga melancarkan serangan terhadap lebih dari 80 target, termasuk 60 kapal kecil IRGC.
Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuduh Washington “mengintimidasi dan mengingkari janji”. Ia menegaskan, “Selat Hormuz hanya akan terbuka dengan ‘kesepakatan Iran,’ bukan ancaman Amerika.”