JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tergelincir di tengah meningkatnya kekhawatiran geopolitik global yang memicu aksi hati-hati di pasar keuangan pada Rabu (18/2/2026).
Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah melemah 0,28 persen atau turun 47 poin ke posisi Rp16.884 per dolar AS pada akhir sesi perdagangan.
Menurut Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, tekanan terhadap rupiah dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang memengaruhi sentimen investor.
“Garda Revolusi Iran melakukan latihan di Selat Hormuz, menyusul penempatan pasukan AS secara besar-besaran di Timur Tengah,” kata Ibrahim, Rabu, 18 Februari 2026.
Latihan perang tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa situasi di kawasan strategis itu berpotensi memicu konflik berskala besar.
Selat Hormuz menjadi sorotan dunia karena jalur perairan ini menampung sekitar 20 persen pasokan minyak global setiap harinya, menjadikannya titik krusial bagi stabilitas energi dunia.
Di sisi lain, Ukraina dan Rusia memulai putaran pertama perundingan damai di Jenewa yang dimediasi Amerika Serikat. Presiden Donald Trump mendesak Ukraina agar segera menyetujui langkah perdamaian setelah empat tahun konflik yang melelahkan kedua pihak.
Ibrahim menambahkan, “Di sisi lain, investor berhati-hati menjelang rilis risalah pertemuan kebijakan Federal Reserve bulan Januari. Risalah tersebut akan memberikan wawasan baru tentang waktu dan skala potensi pelonggaran moneter.”
Pelaku pasar juga menunggu laporan indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS untuk Desember 2025 yang akan diumumkan akhir pekan ini. Data tersebut penting karena menjadi indikator inflasi utama bagi bank sentral AS dan dapat menentukan arah suku bunga ke depan.
Sementara di dalam negeri, pelaku pasar mengamati kondisi fiskal pemerintah yang dinilai semakin menantang. “Ketergantungan pada defisit berpotensi menunda reformasi struktural,” ujar Ibrahim.
Kementerian Keuangan mencatat defisit APBN 2025 mencapai Rp695,1 triliun atau 2,92 persen dari PDB, meningkat signifikan dibanding target awal Rp616,2 triliun atau 2,53 persen dari PDB.
Meski masih di bawah batas 3 persen sesuai UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, ruang fiskal Indonesia dinilai semakin menipis.
“Meski masih di bawah ambang batas 3 persen, secara ekonomi ruang fiskal sudah menipis,” ungkap Ibrahim, menutup analisisnya.***