Fenomena “Sahur Tanpa Karbo” tengah menjadi buah bibir di berbagai platform media sosial seperti TikTok dan X (Twitter). Banyak netizen mengeklaim bahwa dengan hanya mengonsumsi protein dan lemak saat sahur, tubuh terasa lebih segar, tidak cepat lapar, dan terhindar dari rasa kantuk yang hebat di pagi hari.
Namun, apakah tren ini aman dilakukan selama sebulan penuh? Mari kita bedah sisi positif dan negatifnya menurut perspektif ahli gizi.
Sisi Positif: Mengapa Netizen Menyukainya?
Menurut para ahli gizi, tren ini sebenarnya mengadaptasi prinsip Low Carb atau bahkan Keto. Berikut adalah alasan mengapa sahur tanpa karbohidrat (atau sangat rendah karbo) memberikan efek instan yang terasa menyenangkan:
-
Menghindari “Sugar Crash”: Saat kita mengonsumsi karbohidrat sederhana (nasi putih, tepung, gula) dalam jumlah banyak, gula darah akan melonjak drastis lalu merosot tajam beberapa jam kemudian. Penurunan drastis inilah yang memicu rasa lemas dan kantuk hebat sekitar pukul 9 atau 10 pagi.
-
Kenyang Lebih Lama: Protein (telur, daging, ayam) dan lemak sehat (alpukat, kacang-kacangan) membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna oleh lambung dibandingkan karbohidrat. Hal ini memberikan rasa kenyang yang lebih stabil sepanjang hari.
-
Memicu Pembakaran Lemak: Dalam kondisi tanpa karbohidrat, tubuh akan dipaksa mencari sumber energi lain, yaitu lemak tubuh (proses ketosis). Inilah yang membuat tren ini sangat populer bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan selama Ramadan.
Sisi Negatif: Risiko yang Perlu Diwaspadai
Meski terasa menjanjikan, para ahli gizi mengingatkan bahwa karbohidrat adalah sumber energi utama bagi otak dan otot. Menghilangkannya sama sekali saat sahur memiliki risiko:
-
Risiko Dehidrasi: Karbohidrat membantu tubuh mengikat air. Tanpa karbo, tubuh cenderung lebih cepat membuang cairan melalui urin, sehingga risiko dehidrasi selama berpuasa menjadi lebih tinggi.
-
Bau Mulut (Ketosis Breath): Proses pembakaran lemak (ketosis) menghasilkan senyawa keton yang dikeluarkan melalui napas, sering kali menimbulkan bau mulut yang khas dan kurang sedap.
-
Performa Otak Menurun: Otak sangat bergantung pada glukosa. Bagi sebagian orang, sahur tanpa karbo dapat menyebabkan sulit berkonsentrasi, pusing, atau brain fog di siang hari, terutama bagi mereka yang belum terbiasa.
-
Sembelit: Banyak pelaku “sahur tanpa karbo” hanya fokus pada daging dan telur, sehingga melupakan serat. Tanpa karbohidrat kompleks (seperti gandum atau sayuran berserat), pencernaan bisa terganggu.
Tips Bijak: Jalan Tengah “Karbo Kompleks”
Ahli gizi menyarankan agar tidak perlu ekstrem menghilangkan karbohidrat sama sekali. Jalan tengah yang paling sehat adalah mengganti jenis karbohidratnya.
Daripada menghilangkan nasi, cobalah beralih ke Karbohidrat Kompleks seperti:
-
Beras Merah atau Gandum: Melepas energi secara perlahan (slow release).
-
Ubi atau Singkong: Memberikan rasa kenyang yang stabil.
-
Sayuran Hijau dalam Jumlah Banyak: Karbohidrat berserat tinggi yang menjaga hidrasi.
Sahur tanpa karbo bisa menjadi pilihan bagi Anda yang ingin menghindari rasa kantuk dan lemas akibat lonjakan gula darah. Namun, pastikan asupan serat dari sayuran dan cairan tetap terpenuhi agar tubuh tidak mengalami dehidrasi atau gangguan pencernaan.