JAKARTA – Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah Washington mengerahkan kekuatan militer signifikan di kawasan Timur Tengah. Kapal induk tercanggih dan terbesar Angkatan Laut AS, USS Gerald R. Ford, memasuki Laut Mediterania pada Jumat (20/2/2026) waktu setempat setelah melintasi Selat Gibraltar.
Kapal induk tersebut, yang diperintahkan Presiden AS Donald Trump untuk bergabung di wilayah itu, akan memperkuat kehadiran USS Abraham Lincoln beserta kelompok kapal perang pendukungnya yang lebih dahulu berada di kawasan Timur Tengah. Pengerahan ini menjadi bagian dari peningkatan kekuatan militer AS di tengah ketegangan terkait program nuklir Iran serta negosiasi yang belum mencapai titik temu.
Menurut laporan AFP, foto-foto USS Gerald R. Ford terlihat saat melintasi Selat Gibraltar, menandai langkah strategis AS dalam menambah opsi serangan udara potensial terhadap Teheran.
Presiden Trump secara terbuka menyampaikan pertimbangannya mengenai opsi militer. Pada Jumat (20/2/2026), ketika ditanya wartawan tentang kemungkinan serangan militer terbatas, Trump menyatakan, “Yang paling bisa saya katakan, saya sedang mempertimbangkannya.”
Sehari sebelumnya, Kamis (19/2/2026), Trump mengisyaratkan bahwa “hal-hal buruk” akan terjadi jika Teheran tidak mencapai kesepakatan dalam batas waktu yang ia tetapkan, yang semula 10 hari lalu diperpanjang menjadi 15 hari.
Di tengah proses diplomasi yang masih berlangsung—dengan Iran menegaskan pembicaraan hanya mencakup isu nuklir, sementara AS mendorong agar program rudal balistik dan dukungan terhadap kelompok bersenjata regional turut dibahas—warga sipil di Teheran dilaporkan diliputi kecemasan. Trauma akibat konflik singkat dengan Israel pada Juni 2025 masih membekas, ketika serangan rudal dan drone menewaskan ribuan orang di Iran serta puluhan korban di Israel.
Seorang warga Teheran, Hamid, mengaku mengalami kesulitan tidur akibat situasi yang tidak menentu. “Saya tidak bisa tidur nyenyak di malam hari meskipun sudah minum obat,” ujarnya kepada AFP, Minggu (22/2/2026).
Ia mengaku khawatir terhadap masa depan keluarganya. “Saya telah menjalani hidup saya, tetapi anak dan cucu saya belum sempat menikmati hidup dengan tenang. Saya ingin mereka setidaknya merasakan hidup untuk sementara waktu. Tetapi saya takut mereka mungkin tidak mendapatkan kesempatan itu,” katanya.
Kekhawatiran serupa disampaikan Hanieh (31), perajin keramik asal Teheran, yang memperkirakan konflik dapat pecah dalam waktu dekat. Ia mengaku telah menimbun kebutuhan pokok. “Saya semakin takut karena saya dan ibu saya mengalami banyak kesulitan selama perang 12 hari terakhir. Kami harus pergi ke kota lain,” tuturnya.
Warga lainnya, Mina Ahmadvand (46), juga menyatakan telah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. “Saya pikir pada tahap ini, perang antara Iran, AS, dan Israel tidak dapat dihindari. Saya telah mempersiapkan diri untuk kemungkinan itu,” ujarnya. Ia mengaku telah membeli makanan kaleng, air kemasan, baterai cadangan, serta kebutuhan esensial lainnya.
Sejumlah negara mulai mengeluarkan peringatan perjalanan. Pemerintah Serbia memperbarui imbauan agar warganya segera meninggalkan Iran dengan alasan memburuknya situasi keamanan. Kementerian Luar Negeri Serbia menyatakan, “Semua orang yang berada di Iran disarankan untuk meninggalkan negara itu sesegera mungkin.”
Menteri Luar Negeri Swedia, Maria Malmer Stenergard, juga menyampaikan seruan melalui media sosial X agar warga Swedia di Iran segera kembali ke tanah air.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyatakan terus memantau perkembangan situasi. Pelaksana Tugas Direktur Perlindungan WNI, Heni Hamidah, menyebut kondisi di Teheran dan kota-kota lain sejauh ini masih normal. “KBRI Teheran senantiasa memantau dan menjalin komunikasi aktif. Hingga saat ini, tidak terdapat laporan WNI yang menghadapi ancaman langsung maupun situasi yang membahayakan keselamatan,” ujarnya, Minggu (22/2/2026).
Status Siaga 1 untuk Iran tetap diberlakukan sejak Juni 2025. Kemlu menegaskan berbagai rencana kontingensi dan opsi evakuasi telah disiapkan, serta mengimbau WNI di Iran untuk meningkatkan kewaspadaan dan menjaga komunikasi dengan KBRI Teheran.
Juru Bicara Kemlu, Vahd Nabyl, menambahkan bahwa WNI disarankan mempertimbangkan kepulangan mandiri jika situasi memburuk. Dalam keadaan darurat, WNI dapat menghubungi hotline KBRI Teheran di +98 9914668845 / +98 902 466 8889 atau hotline Direktorat Pelindungan WNI Kemlu di +62 812-9007-0027.
Perkembangan ini menegaskan rapuhnya stabilitas kawasan Timur Tengah, di mana eskalasi militer berpotensi memicu konflik yang lebih luas jika jalur diplomasi gagal meredakan ketegangan.