JAKARTA – Menjelang Hari Raya Idulfitri, tradisi membeli aneka kue kering dan biskuit dalam kemasan kaleng mulai ramai dilakukan masyarakat. Momen Lebaran memang identik dengan suguhan nastar, kastengel, putri salju, hingga biskuit aneka rasa yang tersaji di meja tamu. Tak heran, permintaan terhadap kue kalengan meningkat tajam beberapa minggu sebelum hari raya.
Belakangan ini, warganet di berbagai platform Media Sosial dan forum diskusi online dibuat gempar, istilah satir “beli kaleng bonus makanan” pun viral dan menjadi bahan perbincangan. Banyak yang mengaku kecewa karena ukuran luar kaleng terlihat besar dan menjanjikan, tetapi ketika dibuka, volumenya dinilai tidak sebanding.
Fenomena ini muncul setelah sejumlah pengguna platform media sosial yang membagikan video saat membuka makanan kaleng berukuran besar, namun isi di dalamnya tampak sedikit dan tidak memenuhi ruang kemasan. Banyak yang mengaku kecewa karena ukuran luar kaleng terlihat besar dan menjanjikan, tetapi ketika dibuka, volumenya dinilai tidak sebanding.
Kemasan Besar, Isi Tidak Penuh?
Dalam industri makanan olahan, produk seperti sarden, kornet, buah kaleng, hingga sup siap saji memang umum dikemas dalam wadah kaleng. Beberapa merek global yang dikenal luas dengan produk makanan kalengnya. Namun, secara umum, produsen memang mencantumkan berat bersih (net weight) pada label kemasan, bukan volume penuh wadah.
Artinya, konsumen sebenarnya membeli berdasarkan berat isi bersih, bukan ukuran kaleng. Meski demikian, tidak semua pembeli membaca detail tersebut sebelum membeli. Banyak yang lebih terpengaruh oleh ukuran visual kemasan.
Di sinilah letak persoalannya. Ketika ukuran kaleng terlihat besar tetapi isinya tidak memenuhi ruang hingga penuh, muncul persepsi bahwa konsumen “tertipu secara visual”. Dalam dunia pemasaran, praktik ini sering dikaitkan dengan istilah slack fill.
Apa Itu Slack Fill?
Slack fill adalah kondisi ketika kemasan memiliki ruang kosong di dalamnya. Dalam beberapa kasus, ruang kosong itu memang dibutuhkan untuk melindungi isi produk selama proses distribusi. Namun jika ruang kosong dinilai berlebihan dan tidak memiliki alasan fungsional, hal itu bisa memicu kritik konsumen.
Di Amerika Serikat, misalnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan yaitu Food and Drug Administration (FDA) mengatur soal kemasan menyesatkan, termasuk praktik nonfunctional slack fill. Aturan tersebut bertujuan melindungi konsumen dari kemasan yang secara visual bisa memberikan kesan isi lebih banyak daripada kenyataannya.
Di Indonesia sendiri, aturan mengenai label dan kemasan pangan diawasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Produsen wajib mencantumkan informasi berat bersih secara jelas pada kemasan agar konsumen dapat mengetahui jumlah produk yang sebenarnya dibeli.
Kenapa Fenomena Ini Viral?
Ada beberapa alasan mengapa istilah “beli kaleng bonus makanan” cepat viral:
-
Visual yang Kontras
Video perbandingan antara ukuran kaleng dan isi yang sedikit sangat menarik secara visual. Konten seperti ini mudah mendapat perhatian dan dibagikan ulang. -
Relatable Experience
Banyak orang pernah mengalami hal serupa membeli produk yang terlihat besar, tetapi isinya tidak sebanyak yang dibayangkan. -
Nada Satir dan Humor
Warganet Indonesia dikenal kreatif dalam membuat istilah sindiran. Frasa “beli kaleng bonus makanan” terdengar lucu, tetapi menyampaikan kritik yang tajam. -
Kesadaran Konsumen yang Meningkat
Konsumen kini semakin kritis terhadap transparansi produk, terutama terkait harga dan isi.
Apakah Ini Pelanggaran?
Tidak selalu. Jika berat bersih yang tercantum pada kemasan sesuai dengan isi sebenarnya, maka secara hukum produsen tidak melanggar aturan. Masalahnya lebih pada persepsi konsumen terhadap desain kemasan.
Namun, jika terdapat ketidaksesuaian antara label berat bersih dan isi nyata, maka hal tersebut dapat dilaporkan kepada otoritas terkait. Transparansi tetap menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan konsumen.
Tips Agar Tidak “Tertipu” Kemasan
Agar tidak merasa kecewa, berikut beberapa tips sebelum membeli makanan kaleng:
-
Periksa berat bersih (net weight), bukan hanya ukuran kemasan.
-
Bandingkan harga per gram, bukan harga per kaleng.
-
Baca komposisi dan informasi nilai gizi untuk mengetahui proporsi bahan utama.
-
Cek ulasan pembeli lain, terutama jika produk sedang viral.
Fenomena viral “beli kaleng bonus makanan” menjadi pengingat penting tentang literasi konsumen di era digital. Meski kemasan besar belum tentu berarti isi banyak, konsumen memiliki hak untuk mendapatkan informasi yang jelas dan transparan.
Di sisi lain, produsen juga perlu mempertimbangkan desain kemasan yang tidak menimbulkan persepsi menyesatkan. Karena di era media sosial, satu video berdurasi 30 detik bisa memengaruhi citra produk secara luas.
Pada akhirnya, viralnya tren ini bukan hanya soal kaleng dan isi makanan, tetapi tentang bagaimana konsumen semakin kritis dan berani menyuarakan pengalaman mereka.