Kemewahan Fairmont The Palm, resor ikonik di pulau buatan Palm Jumeirah, Dubai, mendadak sirna. Dalam sekejap, hotel yang biasanya menjadi simbol kedamaian dan prestise ini berubah menjadi “medan perang” dua dimensi: kehancuran fisik di lapangan dan kehancuran reputasi di jagat digital.
Tragedi bermula pada Sabtu (28/2/2026), saat sistem pertahanan udara Uni Emirat Arab (UEA) mencegat serangan udara dari Iran. Sial bagi Fairmont, serpihan besar rudal yang meledak di langit jatuh tepat menghantam fasad depan bangunan.
Rekaman video memperlihatkan api melalap eksterior hotel, menciptakan kepanikan luar biasa bagi para tamu yang tengah menikmati fasilitas bintang lima tersebut.
New York Post mendeskripsikan suasana tersebut “mencekam seperti di jalur konflik,” dengan kepulan asap hitam yang menutupi kemegahan pantai pribadi sepanjang 450 meter milik resor tersebut.
‘Serangan’ Bintang Satu yang Sarkastik
Namun, penderitaan pihak manajemen belum berakhir di situ. Tak lama setelah api padam, kolom Google Reviews hotel ini mendadak “meledak”. Bukannya simpati, ribuan netizen justru melancarkan aksi review bombing dengan rating bintang satu.
Banyak ulasan muncul dengan nada sarkastik yang menyakitkan. “Sangat tidak direkomendasikan, ada rudal masuk ke kamar saya,” tulis salah satu pengguna. Lainnya menulis dengan nada mengejek, “Hotel mewah tapi tidak punya sistem pertahanan udara sendiri.”
Jejak Digital yang Mendadak ‘Bersih’
Ada fenomena menarik pasca-serangan digital tersebut. Dalam hitungan jam, ribuan ulasan negatif yang membanjiri Google Reviews Fairmont The Palm menghilang secara misterius. Saat ini, ulasan publik seolah terhenti di tanggal 27 Februari 2026—sehari sebelum insiden terjadi.
Langkah ini memicu perdebatan sengit mengenai sensor konten di platform digital. Apakah ini langkah perlindungan otomatis dari Google atau permintaan khusus pihak manajemen untuk menyelamatkan rating 4,6 yang telah dibangun sejak 2012?
Hingga saat ini, manajemen Fairmont The Palm masih bungkam terkait kerusakan fisik maupun “serangan” ulasan netizen yang menimpa mereka.
Sebagai hotel dengan 390 kamar yang dikenal memiliki delapan kolam renang luar ruangan dan kuliner kelas dunia, tantangan mereka kini bukan sekadar merenovasi tembok yang terbakar, melainkan mengembalikan citra “tempat teraman di dunia” yang kini mulai goyah.