WASHIGNTON, D.C — Senat Amerika Serikat menolak resolusi bipartisan yang dirancang untuk membatasi kewenangan Presiden Donald Trump dalam melancarkan operasi militer terhadap Iran, di tengah situasi konflik yang masih berlangsung.
Resolusi tersebut gagal disahkan setelah pemungutan suara berakhir dengan hasil 53-47, yang sebagian besar mencerminkan perpecahan antargaris partai. Seandainya lolos, resolusi itu akan mengharuskan pemerintah menghentikan aksi militer AS di Iran tanpa persetujuan Kongres terlebih dahulu.
Kubu Demokrat menilai Trump telah menepi dari kewajiban berkonsultasi dengan Kongres dan terus mengubah alasan di balik keterlibatan militer tersebut. Mayoritas senator Republik memblokir resolusi itu, meski sejumlah di antara mereka membuka kemungkinan untuk mengubah sikap apabila konflik meluas dalam beberapa pekan mendatang.
Serangan terhadap Iran dilancarkan oleh AS dan Israel sejak Sabtu lalu. Iran membalasnya dengan meluncurkan serangan ke wilayah Israel dan sejumlah negara sekutu AS di kawasan Teluk.
Dalam pemungutan suara pada Rabu itu, dua senator memilih di luar garis partainya masing-masing. Senator Demokrat John Fetterman dari Pennsylvania menolak resolusi tersebut, sementara Senator Republik Rand Paul dari Kentucky justru memberikan suara mendukungnya. Seluruh senator lainnya memilih sesuai arah partai masing-masing.
Senator Susan Collins, politikus Republik moderat dari Maine, turut menolak resolusi itu. Ia beralasan bahwa pengesahan resolusi justru akan mengirimkan sinyal keliru kepada Iran maupun pasukan AS sendiri.
“Pada titik ini, memberikan dukungan penuh kepada anggota militer kita sangatlah penting, begitu pula konsultasi yang berkelanjutan antara pemerintah dengan Kongres,” ujarnya, dilansir dari BBC.
Sebelum memberikan suaranya, Pemimpin Demokrat di Senat Chuck Schumer menyampaikan pernyataan tajam.
“Apakah Anda berpihak pada rakyat Amerika yang sudah lelah dengan perang tanpa akhir di Timur Tengah, atau berpihak pada Donald Trump dan Pete Hegseth yang menyeret kita secara ceroboh ke dalam perang lain?” katanya, juga dilansir dari BBC.
Resolusi yang sama dijadwalkan dibawa ke pemungutan suara di Dewan Perwakilan Rakyat pada Kamis, meski peluangnya untuk lolos dinilai sangat berat.