TEHERAN, IRAN – Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah berhasil menghantam kapal induk Amerika Serikat USS Abraham Lincoln di wilayah Teluk dengan empat rudal balistik. Klaim ini muncul menyusul kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel.
“Kapal induk AS Abraham Lincoln dihantam oleh empat rudal balistik,” demikian pernyataan IRGC yang dikutip media lokal Iran dan dilansir Al Jazeera pada Minggu (1/3/2026).
Dalam pernyataan yang sama, IRGC juga mengeluarkan ancaman keras dengan menyatakan bahwa wilayah darat dan laut semakin menjadi “kuburan” bagi musuh-musuh mereka yang disebut sebagai “agresor teroris”.
USS Abraham Lincoln, kapal induk bertenaga nuklir kelas Nimitz, telah beroperasi di Laut Arab sejak akhir Januari 2026. Hingga kini, militer AS belum memberikan konfirmasi resmi mengenai adanya kerusakan atau korban jiwa akibat serangan tersebut.
Pusat Komando AS (CENTCOM) secara tegas membantah klaim Iran. Mereka menyatakan rudal-rudal yang diluncurkan “bahkan tidak mendekati” kapal induk tersebut, dan USS Abraham Lincoln tetap melaksanakan operasi penerbangan normal sebagai bagian dari kampanye militer Amerika di kawasan.
Insiden ini merupakan bagian dari eskalasi konflik yang meletus setelah operasi udara besar-besaran bernama Operation Epic Fury yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026). Serangan tersebut menewaskan Ayatollah Ali Khamenei bersama sejumlah petinggi militer Iran lainnya, serta menimbulkan ratusan korban sipil di wilayah Iran.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone sejak Sabtu (28/2) hingga Minggu (1/3). Selain menargetkan aset Amerika Serikat di kawasan, Iran juga mengarahkan serangan ke Riyadh dan provinsi Timur Arab Saudi.
Konflik ini memicu ketegangan regional yang semakin meluas. Operasi militer AS dan Israel terus berlanjut untuk menekan kemampuan rudal serta sistem pertahanan Iran, sementara Teheran berupaya menunjukkan ketahanan melalui serangan balasan.
Hingga kini belum ada indikasi de-eskalasi dari kedua pihak. Situasi di Timur Tengah tetap sangat dinamis dengan risiko eskalasi yang lebih luas.