JAKARTA – Dalam perkembangan terbaru konflik Timur Tengah, pasukan Israel (IDF) diduga jatuh ke dalam jebakan cerdik Iran berupa lukisan jet tempur dan helikopter di atas aspal landasan pacu.
Video serangan udara yang dirilis IDF menunjukkan rudal presisi menghantam apa yang diklaim sebagai helikopter Mi-17 milik Iran. Namun, analisis mendalam mengungkap bahwa target tersebut kemungkinan hanyalah gambar dua dimensi (2D) yang dilukis secara realistis menggunakan teknik anamorfik.
Teknik ini membuat objek terlihat seperti aset militer sungguhan dari sudut pandang udara atau satelit. Dengan cara tersebut, sistem pengintaian dan penargetan canggih milik Israel serta Amerika Serikat dapat terkecoh.
Setelah ledakan terjadi, siluet helikopter dalam rekaman tetap tampak utuh tanpa tanda-tanda kerusakan signifikan seperti puing beterbangan atau ledakan sekunder—ciri yang biasanya muncul ketika target nyata dihantam rudal. Hal ini memperkuat dugaan bahwa sasaran tersebut hanyalah target palsu.
Sejumlah analis militer di media sosial dan laporan regional menyebut Iran sengaja menempatkan lukisan pesawat tempur F-14 Tomcat serta helikopter di beberapa bandara, termasuk Bandara Mehrabad di Teheran. Sementara itu, jet tempur asli Iran dilaporkan telah dipindahkan ke fasilitas bawah tanah untuk pelindungan.
Biaya pembuatan decoy ini diperkirakan hanya puluhan hingga ratusan dolar, mencakup cat dan tenaga kerja sederhana. Sebaliknya, rudal presisi yang digunakan Israel atau Amerika Serikat dapat mencapai nilai sekitar US$5 juta per unit atau lebih.
“Iran menggunakan taktik low-tech yang brilian di tengah perang high-tech. Mereka memaksa musuh membuang amunisi mahal pada target fiktif,” tulis seorang analis pertahanan di platform X, merujuk pada video IDF yang viral.
Laporan dari sumber Iran dan analis independen juga menyebut strategi ini telah digunakan berulang kali, termasuk dengan penggunaan decoy radar dan mock-up termal untuk mengelabui sistem penargetan berbasis AI.
Meski IDF belum memberikan komentar resmi terkait klaim ini, sejumlah media pro-Iran menyebut serangan tersebut sebagai pemborosan sumber daya musuh yang tidak merusak kemampuan udara Iran yang sebenarnya.
Peristiwa ini menambah babak baru dalam perang asimetris, di mana kecerdikan serta penggunaan decoy murah mampu menantang superioritas teknologi militer. Pengamat internasional memperingatkan bahwa taktik semacam ini berpotensi menjadi pola baru dalam konflik modern, terutama bagi negara yang menghadapi serangan udara berulang.