Musim 2026 kini diwarnai tudingan bahwa Mercedes telah mengeksploitasi celah dalam aturan unit tenaga (mesin) untuk mendapatkan keunggulan kompresi yang signifikan di lintasan.
Regulasi 2026 menetapkan rasio kompresi geometris maksimum 16:1 saat mesin diukur dalam kondisi dingin (suhu ruangan). Namun, Mercedes diduga menemukan trik cerdik: mereka merancang mesin agar saat mencapai suhu operasional penuh di lintasan, komponen internal memuai (thermal expansion) hingga rasionya mendekati 18:1.
Max Verstappen mengklaim bahwa “trik” ini memberikan tambahan tenaga yang cukup masif—antara 20 hingga 30 horsepower. Sementara itu, Toto Wolff menepis angka tersebut dan menyebutnya jauh lebih kecil.
FIA Turun Tangan, Tapi…
Setelah diprotes keras oleh Ferrari, Honda, Audi, dan Red Bull, FIA akhirnya merespons. Mulai 1 Juni, aturan akan diperketat: rasio kompresi harus memenuhi syarat pada suhu ruangan dan saat suhu mencapai 130 derajat Celsius.
Masalahnya? Perubahan ini baru berlaku 1 Juni. Artinya, Mercedes memiliki “hak istimewa” untuk menikmati keuntungan performa tersebut selama tujuh balapan pertama musim 2026.
Reaksi Panas Lewis Hamilton
Lewis Hamilton, yang kini berseragam Ferrari, tidak bisa menyembunyikan kekesalannya melihat Mercedes mengunci barisan depan di kualifikasi GP Australia. Ia secara terbuka mempertanyakan kelambanan FIA.
“Jika ini memang masalah rasio kompresi, saya kecewa FIA membiarkan hal itu terjadi. Ini tidak sesuai semangat aturan,” ujar Hamilton. “Saya akan mendorong tim saya untuk melakukan hal yang sama (mencari celah) agar kami bisa mendapatkan tenaga lebih.”
Hamilton memperingatkan bahwa tujuh balapan adalah waktu yang sangat panjang untuk tertinggal di era di mana selisih performa bisa ditentukan oleh satu detik saja.
Bukan Sekadar Mesin?
Namun, narasi bahwa Mercedes “menang karena curang” mulai digoyahkan oleh analisis teknis. Bernie Collins, analis Sky Sports, memberikan perspektif yang menarik:
-
Ada empat tim yang menggunakan unit tenaga Mercedes.
-
Jika masalahnya murni pada rasio kompresi, seharusnya keempat tim tersebut menyapu bersih posisi depan.
-
Faktanya? Hanya tim pabrikan Mercedes yang dominan.
Hal ini memperkuat spekulasi George Russell dan rekan-rekannya bahwa sasis W17 milik Mercedes memang dirancang dengan sangat brilian di bawah regulasi baru ini, melampaui sekadar masalah mesin.
Satu hal yang pasti: Persaingan di ruang rapat FIA akan sama sengitnya dengan persaingan di lintasan hingga balapan ketujuh musim ini berakhir.