BANTEN — Berbagai data menunjukkan peningkatan tumpukan sampah di Tempat Pemakaman Umum (TPU) dengan berbagai tantangannya. Di tengah kondisi tersebut, kesadaran untuk memilah dan mengolah limbah dari rumah, sebagai salah satu penyumbang sampah terbesar ke TPU, menjadi semakin penting. Sampah yang selama ini kerap dipandang sebagai masalah, sejatinya dapat diubah menjadi peluang bernilai ekonomi sekaligus membawa dampak positif bagi lingkungan dan sosial.
Di Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, seorang nasabah PNM Mekaar mendorong lahirnya solusi dari permasalahan tersebut di tingkat akar rumput. Berawal dari usaha rumahan sejak 2019, Ibu Amaliyah kini tidak hanya mengembangkan bisnisnya, tetapi juga menginisiasi pengolahan sampah yang memberikan nilai ekonomi sekaligus manfaat sosial bagi masyarakat sekitar.
Perjalanan Ibu Amaliyah bersama PNM mulai berkembang pesat sejak mendapatkan pemberdayaan PNM Mekaar pada 2023. Tidak hanya memperoleh tambahan modal, ia juga mendapatkan pendampingan dan pembinaan yang mendorong peningkatan kapasitas usahanya. Melalui PNM, ia mengembangkan brand Amalia Kitchen, yakni usaha kue rumahan yang sampahnya diolah menjadi berbagai produk seperti aroma terapi hingga sofa ecobrick.
Seiring meningkatnya produksi, muncul tantangan berupa penumpukan sampah yang kemudian direspons dengan langkah bijak melalui inisiasinya untuk mengajak ibu-ibu lain melakukan pemilahan sampah serupa.
Inisiatif ini tidak hanya mengurangi limbah, tetapi juga melahirkan Bank Sampah MATA (Masigit Asri Tanpa Sampah) yang melibatkan masyarakat sekitar. Sebanyak 86 anggota bank sampah melakukan penyetoran sampah yang kemudian diganjar imbalan rupiah untuk setiap kilogram sampah yang disetorkan.
Lebih dari sekadar usaha, Ibu Amaliyah juga menjadikan kegiatan ini sebagai sarana berbagi dengan menyisihkan sebagian keuntungan untuk dhuafa dan anak yatim. Dengan penuh haru, ia mengungkapkan, “Saya tidak pernah menyangka, yang awalnya hanya ibu-ibu dasteran yang ngumpulin sampah, kini bisa sampai jadi juara Mekaarpreneur. Alhamdulillah, dari kegiatan sederhana ini saya justru bisa berbagi dan memberi manfaat untuk orang lain.”
Sekretaris Perusahaan PNM, L. Dodot Patria Ary menambahkan, “Apa yang dilakukan Ibu Amaliyah adalah gambaran nyata dari semangat yang ingin terus PNM tumbuhkan. Dari hal sederhana, dapur rumahan, bisa lahir dampak yang luas, bukan hanya menguatkan ekonomi keluarga, tapi juga menghadirkan kepedulian sosial dan menjaga lingkungan di sekitar,” ujar Dodot.
Dampak nyata dari Bank Sampah MATA kini dirasakan langsung oleh Kampung Masigit dalam pengelolaan sampah. Angka tumpukan sampah yang sebelumnya mencapai 900 kg per bulan berhasil berkurang menjadi hanya 400 kg per bulan.
Inisiatif ini tidak hanya memberikan dampak positif terhadap lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar. Dengan adanya pemilahan sampah yang terkelola dengan baik, Ibu Amaliyah dan Bank Sampah MATA telah mengubah sampah yang semula menjadi masalah besar menjadi sumber keberkahan yang bernilai dan bermanfaat langsung bagi masyarakat.