Gunungan sampah setinggi 50 meter di Zona IV TPST Bantar Gebang, Bekasi, kembali runtuh pada Minggu (8 Maret 2026) sore sekitar pukul 14.30 WIB. Longsor yang disebut “kembali” ini langsung memakan korban jiwa.
Hingga Senin (9 Maret 2026), tim SAR gabungan telah menemukan 5 orang tewas dan masih mencari 4 orang yang hilang tertimbun ribuan ton sampah.
Korban yang telah teridentifikasi antara lain:
- Enda Widayanti (25 tahun), pemilik warung
- Sumini (60 tahun), pemilik warung
- Dedi Sutrisno (22 tahun), sopir truk sampah asal Karawang
- Iwan Supriyatin (40 tahun)
Korban kelima ditemukan Senin siang pukul 12.05 WIB. Sebagian besar korban adalah warga sekitar dan pekerja yang sedang beraktivitas di dekat lokasi antrean truk sampah. Truk dan warung kecil ikut tertimbun dalam sekejap.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, langsung turun tangan dan menyatakan ini bukan sekadar musibah alam, melainkan kegagalan sistemik pengelolaan sampah Jakarta yang menggunakan metode open dumping.
“Kita harus selesaikan akar masalah sampah Jakarta agar tak ada lagi korban,” tegasnya. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pun menyampaikan duka mendalam serta bertanggung jawab penuh atas penanganan korban.
Insiden Bantar Gebang hanyalah puncak gunung es dari masalah kronis longsor sampah di Indonesia. Sejarah mencatat tragedi jauh lebih mengerikan yang hingga kini masih membekas di ingatan bangsa.

Tragedi TPA Leuwigajah, Cimahi, 21 Februari 2005
Pada dini hari pukul 02.00 WIB, gunungan sampah setinggi 60 meter dan sepanjang 200 meter di TPA Leuwigajah meledak akibat akumulasi gas metana, lalu longsor seperti tsunami. Longsoran sampah, lumpur, dan api menyapu dua desa (Cilimus dan Pojok) serta Kampung Adat Cireundeu.
Tragedi ini menyebabkan 157 orang tewas (sebagian besar pemulung dan warga sekitar, ratusan orang masih hilang hingga kini dan 137 rumah hancur lebur.
Tragedi ini tercatat sebagai longsor sampah terparah kedua di dunia setelah Payatas, Filipina (2000). Akibatnya, TPA Leuwigajah ditutup permanen dan 21 Februari ditetapkan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional.
Mengapa Terus Berulang?
Penyebab utama hampir selalu sama, sistem open dumping yang membuat gunungan sampah semakin tinggi tanpa pengamanan. Kapasitas TPA melebihi batas juga menjadi penyebab apalagi Bantar Gebang menerima sampah Jakarta setiap hari.
Curah hujan tinggi ikut memperburuk kondisi karena melemahkan struktur sampah. Yang terakhir adalah kurangnya pemantauan dan penegakan aturan.
Ribuan pemulung dan warga miskin yang bergantung pada sampah setiap hari hidup dalam ancaman konstan. Mereka mencari nafkah di “gunung” yang sewaktu-waktu bisa runtuh.
Tragedi Bantar Gebang 2026 ini menjadi alarm keras bagi semua pihak. Penyidikan sedang dilakukan, Zona 4 TPST sudah ditutup, dan tim SAR terus bekerja siang-malam. Namun, duka mendalam ini tak akan berhenti hanya dengan penanganan korban.
Indonesia membutuhkan revolusi pengelolaan sampah: dari open dumping ke sanitary landfill, daur ulang massal, pengurangan sampah di sumber, hingga teknologi pengolahan modern. Karena setiap ton sampah yang tak dikelola dengan benar berpotensi menjadi kuburan massal.
Saat ini, keluarga korban Bantar Gebang menunggu jenazah terakhir ditemukan. Sementara di Cimahi, trauma Leuwigajah masih menghantui generasi penerus.