JAKARTA — Banyak orang yang setelah seharian berpuasa langsung menyantap makanan berat begitu waktu berbuka tiba. Padahal, kebiasaan ini menyimpan sejumlah risiko bagi kesehatan yang kerap diabaikan.
Sebenarnya, mengonsumsi nasi atau makanan berat saat berbuka bukanlah sesuatu yang terlarang. Namun, ada baiknya tubuh diajak “berkenalan” kembali dengan makanan secara bertahap, bukan langsung diserbu dalam porsi besar.
Apa yang Terjadi pada Tubuh saat Langsung Makan Berat?
Selama berpuasa, tubuh tidak mendapat asupan makanan maupun minuman selama hampir 14 jam. Dalam rentang waktu tersebut, sistem pencernaan sepenuhnya beristirahat. Ketika seseorang langsung mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak, organ pencernaan dipaksa bekerja keras secara tiba-tiba, dan inilah yang memicu berbagai masalah.
Dilansir dari Halodoc, setidaknya ada empat dampak yang perlu diwaspadai ketika seseorang langsung menyantap makanan berat saat berbuka puasa.
1. Gangguan Pencernaan
Tidak semua karbohidrat mampu diserap tubuh dengan cepat. Sebagian akan tertinggal di usus dan mengalami fermentasi, sehingga menghasilkan gas yang naik ke kerongkongan dan memicu naiknya asam lambung. Selain itu, lambung yang dipenuhi makanan berat dalam kondisi kosong dapat mengalami iritasi hingga menimbulkan gejala maag dan nyeri perut melilit.
2. Lonjakan Gula Darah
Saat makanan masuk ke dalam tubuh, proses pemecahan nutrisi menjadi energi akan segera berlangsung. Jika makanan yang dikonsumsi langsung dalam porsi besar, kadar glukosa dan insulin dalam darah akan melonjak secara drastis. Kondisi ini dapat memunculkan keluhan seperti sakit kepala dan rasa mual yang mengganggu.
3. Rasa Kantuk yang Datang Tiba-tiba
Karbohidrat dan protein yang masuk dalam jumlah besar membutuhkan energi lebih banyak untuk dicerna. Di sisi lain, sejumlah makanan mengandung asam amino triptofan yang mendorong produksi serotonin—senyawa yang berperan memicu rasa kantuk. Lonjakan gula darah yang terjadi bersamaan juga turut menguras energi tubuh.
4. Cepat Lapar
Ketika kadar gula darah terlampau tinggi, kinerja insulin menjadi terganggu sehingga makanan tidak dapat diubah menjadi energi secara optimal. Akibatnya, tubuh tetap terasa lemas dan hasrat untuk terus makan pun sulit dikendalikan.
Cara Berbuka yang Baik untuk Kesehatan
Dilansir dari Alodokter, ada beberapa langkah yang disarankan agar tubuh dapat menerima asupan dengan baik setelah seharian berpuasa.
Awali berbuka dengan segelas air putih. Air putih bebas gula dan kalori, sehingga efektif mengembalikan keseimbangan cairan tubuh tanpa membebani sistem pencernaan. Setelahnya, konsumsi takjil ringan seperti susu rendah lemak, jus buah, atau es buah tanpa tambahan gula.
Kurma menjadi pilihan takjil yang sangat dianjurkan, terlebih dalam tradisi Islam. Buah ini kaya gula alami yang membantu menormalkan kadar gula darah, sekaligus mengandung serat dan beragam mineral penting seperti kalsium, kalium, zat besi, dan zinc. Tiga butir kurma sudah cukup untuk membuka puasa secara sehat.
Satu hal yang perlu diperhatikan adalah pembatasan konsumsi makanan dan minuman manis berlebihan. Kolak, es campur, atau aneka minuman manis yang kerap menjadi menu favorit berbuka justru dapat memicu rasa haus berkepanjangan, kelebihan kalori, hingga ketergantungan pada gula apabila dikonsumsi secara berlebihan.
Setelah tubuh siap menerima makanan utama, pilihlah menu yang bergizi seimbang, yakni yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, serta vitamin dan mineral. Nasi merah, roti gandum, atau kentang dapat menjadi sumber karbohidrat yang lebih baik. Untuk protein, daging tanpa lemak, telur, atau ikan yang diolah dengan cara dikukus atau dipanggang adalah pilihan bijak. Lengkapi pula dengan satu porsi sayuran guna memenuhi kebutuhan serat selama bulan Ramadan.
Berbuka puasa adalah momen yang dinantikan setiap hari selama Ramadan. Menjadikannya momen yang menyehatkan, bukan sekadar melampiaskan lapar, tentu akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar bagi tubuh. (ACH)