JAKARTA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menghadapi kebuntuan dalam konflik dengan Iran. Tanpa tujuan jelas maupun strategi keluar, Trump gagal meyakinkan publik tentang perlunya perang baru. Situasi semakin rumit setelah seorang pejabat senior kontraterorisme AS mengundurkan diri, menyatakan bahwa Republik Islam Iran “tidak menimbulkan ancaman mendesak bagi negara kita” dan ia “tidak bisa mendukung perang yang sedang berlangsung di Iran dengan hati nurani yang baik.”
Trump berulang kali menegaskan bahwa Iran telah “hancur lebur” akibat serangan gabungan AS dan Israel. Namun, Iran tetap menolak menyerah meski dilemahkan secara militer dan politik. Media AS melaporkan Trump keliru memperkirakan kemampuan Iran untuk melakukan serangan balasan berskala luas.
Dilansir dari Hurriyet Daily News, Rabu (18/3/2026) memasuki minggu ketiga perang, harga minyak melonjak dan kekerasan meluas ke Timur Tengah, termasuk serangan terhadap Kedutaan Besar AS di Irak. Trump kini menghadapi konsekuensi karena bertindak tanpa mandat Kongres maupun dukungan sekutu global. Eropa menolak permintaan AS untuk membantu mengamankan Selat Hormuz, jalur vital yang diblokir Iran.
Pengamat menilai jalur diplomasi masih mungkin ditempuh meski menyempit. Richard Haass dari Council on Foreign Relations menekankan bahwa “meskipun Amerika Serikat memulai konflik ini sendiri, untuk menghentikannya dibutuhkan kesepakatan dari kedua pihak, Israel dan Iran.” Sementara Sina Toossi dari Center for International Policy menyebut opsi paling realistis adalah de-eskalasi melalui perundingan agar semua pihak dapat menyelamatkan muka.
Kekecewaan sekutu semakin nyata. Kanselir Jerman Friedrich Merz menegaskan perang AS melawan Iran bukan urusan NATO, dan Berlin tidak akan terlibat. Ia menambahkan, pembicaraan diplomatik baru hanya bisa dimulai setelah AS dan Israel menyatakan tujuan militer mereka tercapai.