JAKARTA – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengungkapkan keputusan Presiden Prabowo Subianto melaksanakan Salat Idulfitri 2026 (Salat Id) di Aceh sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak bencana.
Langkah Presiden Prabowo untuk meninggalkan ibu kota dan memilih berada di tengah warga Aceh dinilai sebagai simbol empati dan solidaritas negara terhadap korban musibah yang baru-baru ini terjadi.
Momentum Salat Id di Aceh tersebut sekaligus menjadi pesan kuat bahwa pemerintah hadir langsung mendampingi masyarakat dalam situasi sulit, terutama pascabencana yang melanda wilayah tersebut.
Dalam keterangannya saat kegiatan Gema Takbir di Masjid Istiqlal Jakarta, Jumat (20/3/2026), Nasaruddin Umar menyampaikan apresiasi atas keputusan kepala negara tersebut.
“Kita berikan apresiasi kepada Bapak Presiden kita, karena rela meninggalkan Jakarta dan ingin bersama-sama dengan warga yang terdampak bencana kemarin di Aceh,” terang Menag.
“Mudah-mudahan beliau sehat wal’afiat dan mudah-mudahan Allah menghapus semua bencana yang akhir-akhir ini sering melanda Indonesia,” sambungnya.
Sementara itu, pelaksanaan Salat Idulfitri di Masjid Istiqlal tetap akan digelar dan dihadiri oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bersama sejumlah tamu kehormatan dari negara sahabat.
Delegasi internasional yang dijadwalkan hadir berasal dari berbagai negara, termasuk Malaysia dan Jepang, serta para duta besar dari negara-negara Islam yang turut meramaikan suasana Idulfitri di Indonesia.
Menag juga mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk menjadikan Idulfitri sebagai momentum memperkuat persatuan nasional sekaligus meningkatkan kepedulian sosial.
Ia berharap doa dan kebersamaan yang terbangun pada hari kemenangan ini dapat membawa Indonesia menuju kondisi yang lebih makmur, adil, dan sejahtera di masa mendatang.***