JAKARTA – Pemerintah menunjukkan keyakinan kuat bahwa momentum Ramadhan dan Lebaran 2026 menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal pertama tahun ini.
Optimisme tersebut didorong oleh meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat yang dinilai signifikan selama periode hari besar keagamaan.
Target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,5 persen pun dinilai realistis untuk dicapai dengan dukungan belanja masyarakat yang terus menguat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa tren ekonomi selama Ramadhan memberikan sinyal positif terhadap capaian tersebut.
“Kelihatannya target 5,5 bisa dicapai dari geliat selama Ramadhan kemarin,” ujar Airlangga usai menunaikan salat Idul Fitri di Jakarta, Sabtu.
Di sisi lain, pemerintah juga mencermati adanya potensi kenaikan inflasi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Faktor utama yang memengaruhi kondisi ini adalah tidak lagi berlakunya diskon tarif listrik yang sempat diterapkan pada awal 2025.
Ketiadaan insentif tersebut membuat beban pengeluaran listrik masyarakat kembali normal sehingga berdampak pada perhitungan inflasi.
“Tahun kemarin kan sampai bulan Februari itu ada diskon tarif listrik. Jadi itu yang membuat inflasi tahun kemarin dari segi listriknya deflasi. Tahun ini karena enggak ada (diskon tarif listrik), berarti angkanya akan lebih tinggi,” ucap dia.
Meski inflasi berpotensi meningkat, pemerintah tetap menilai daya beli masyarakat berada dalam kondisi yang cukup kuat.
Hal ini terlihat dari tingginya aktivitas belanja selama Ramadhan hingga Lebaran yang dinilai mampu menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi.
Secara keseluruhan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 berada di kisaran 5,5 hingga 5,6 persen secara tahunan.
Target tersebut ditopang oleh percepatan belanja negara, berbagai stimulus fiskal, serta kebijakan untuk menjaga konsumsi domestik.
Untuk memperkuat daya beli, pemerintah telah menggulirkan sejumlah program stimulus ekonomi sejak awal tahun.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah pemberian insentif transportasi bagi masyarakat yang melakukan perjalanan mudik Lebaran.
Diskon tiket kereta api dan angkutan laut masing-masing sebesar 30 persen, layanan penyeberangan gratis hingga 100 persen, serta potongan harga tiket pesawat sebesar 17 hingga 18 persen menjadi bagian dari kebijakan tersebut.
Total anggaran yang disiapkan untuk program transportasi ini mencapai Rp911,16 miliar yang bersumber dari APBN dan non-APBN.
Selain itu, pemerintah juga menyalurkan bantuan pangan dalam skala besar guna menjaga stabilitas konsumsi masyarakat.
Bantuan senilai Rp12 triliun tersebut diberikan kepada lebih dari 35 juta keluarga penerima manfaat dalam bentuk beras dan minyak goreng selama Februari hingga Maret 2026.
Tak hanya itu, pemerintah turut mengalokasikan dana sebesar Rp55 triliun untuk pembayaran Tunjangan Hari Raya kepada sekitar 10,5 juta aparatur negara dan pensiunan.***