JAKARTA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyiapkan langkah antisipasi berupa operasi modifikasi cuaca (OMC) apabila Ibu Kota mengalami periode tanpa hujan selama dua hingga tiga pekan berturut-turut.
Kebijakan ini diambil sebagai upaya mengurangi dampak musim kemarau yang diperkirakan semakin terasa akibat pengaruh fenomena El Nino pada 2026.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, modifikasi cuaca akan menjadi salah satu opsi yang dapat dijalankan jika kondisi cuaca kering berlangsung cukup lama dan mulai memengaruhi aktivitas masyarakat maupun ketersediaan air di sejumlah wilayah.
Menurut Pramono, pemerintah daerah terus memantau perkembangan cuaca bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta instansi terkait sebelum memutuskan pelaksanaan operasi tersebut.
Langkah itu dilakukan agar kebijakan yang diambil sesuai dengan kondisi atmosfer dan memiliki peluang keberhasilan yang optimal.
Antisipasi Dampak Kemarau dan El Nino
Musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Pengaruh El Nino yang mulai menguat berpotensi mengurangi intensitas hujan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jakarta dan kawasan sekitarnya.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kekeringan, berkurangnya cadangan air baku, meningkatnya suhu udara, hingga potensi kebakaran lahan di wilayah penyangga Ibu Kota.
Karena itu, Pemprov DKI menilai diperlukan langkah antisipatif agar dampaknya tidak semakin meluas.
Operasi modifikasi cuaca sendiri bukan merupakan teknologi untuk menciptakan hujan dari langit yang benar-benar cerah.
Metode ini dilakukan dengan menyemai bahan tertentu ke awan yang memiliki potensi hujan sehingga curah hujan dapat dipercepat atau diarahkan ke wilayah yang membutuhkan.
Keberhasilan operasi tersebut sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Jika tidak terdapat awan hujan yang memenuhi syarat, maka modifikasi cuaca tidak dapat dilakukan secara efektif.
Koordinasi dengan BMKG dan BNPB
Rencana pelaksanaan operasi modifikasi cuaca akan dilakukan melalui koordinasi antara Pemprov DKI Jakarta, BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta lembaga teknis lainnya.
Kolaborasi ini penting untuk memastikan waktu pelaksanaan sesuai dengan hasil analisis cuaca terbaru.
BMKG selama beberapa pekan terakhir juga terus memantau perkembangan musim kemarau di wilayah Jabodetabek.
Pemantauan dilakukan melalui citra satelit, radar cuaca, hingga analisis dinamika atmosfer guna mengetahui peluang terbentuknya awan hujan.
Selain mempertimbangkan rekomendasi BMKG, pemerintah juga akan melihat dampak nyata yang dirasakan masyarakat, seperti menurunnya pasokan air, meningkatnya suhu udara, atau munculnya titik-titik kekeringan sebelum memutuskan operasi modifikasi cuaca.
Modifikasi Cuaca Pernah Dilakukan di Jakarta
Operasi modifikasi cuaca bukan hal baru bagi Jakarta. Dalam beberapa tahun terakhir, metode ini beberapa kali digunakan pemerintah untuk berbagai kebutuhan, baik mengurangi risiko banjir saat musim hujan maupun membantu meningkatkan curah hujan ketika musim kemarau.
Teknologi tersebut umumnya dilakukan menggunakan pesawat yang membawa bahan semai, seperti garam (natrium klorida), kemudian disebarkan ke awan yang memenuhi kriteria tertentu.
Tujuannya adalah mempercepat proses pembentukan butiran air sehingga hujan dapat turun lebih cepat.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa operasi modifikasi cuaca bukan solusi permanen terhadap perubahan iklim maupun fenomena El Nino.
Langkah tersebut hanya menjadi bagian dari strategi mitigasi jangka pendek untuk mengurangi dampak cuaca ekstrem.
Di sisi lain, masyarakat juga diimbau mulai menghemat penggunaan air bersih selama musim kemarau, menjaga lingkungan, serta mengantisipasi peningkatan suhu udara dengan menjaga kondisi kesehatan.
Dengan pemantauan cuaca yang terus dilakukan dan kesiapan berbagai instansi, Pemprov DKI berharap dampak musim kemarau di Jakarta dapat diminimalkan.
Jika dalam dua hingga tiga pekan ke depan hujan tidak turun sama sekali dan kondisi atmosfer memungkinkan, operasi modifikasi cuaca akan menjadi salah satu langkah yang disiapkan untuk membantu memenuhi kebutuhan air sekaligus mengurangi risiko kekeringan.***



