JAKARTA – Argentina dipastikan tampil di Piala Dunia 2030 setelah FIFA memberikan tiket otomatis sebagai bagian dari enam negara tuan rumah edisi peringatan 100 tahun turnamen sepak bola terbesar dunia.
Keputusan tersebut menjadi kebijakan yang tidak biasa karena Argentina hanya mendapat jatah menggelar satu laga pembuka, tetapi tetap memperoleh hak lolos langsung ke putaran final.
Kebijakan FIFA itu memunculkan beragam tanggapan karena berbeda dengan sejumlah turnamen internasional lain yang tetap mewajibkan negara tuan rumah mengikuti babak kualifikasi.
Mengutip laporan Fadeaway World, Jumat (31/7/2026), Piala Dunia 2030 menjadi edisi paling unik sepanjang sejarah karena digelar di enam negara yang tersebar di tiga benua sekaligus.
Spanyol, Portugal, dan Maroko menjadi penyelenggara utama yang menggelar sebagian besar pertandingan sepanjang turnamen.
Sementara itu, Uruguay, Argentina, dan Paraguay dipercaya menjadi tuan rumah laga pembuka sebagai penghormatan terhadap sejarah lahirnya Piala Dunia.
Keputusan tersebut berkaitan dengan peringatan 100 tahun penyelenggaraan Piala Dunia pertama yang berlangsung di Uruguay pada 1930.
Pada edisi perdana itu, Uruguay keluar sebagai juara setelah mengalahkan Argentina dengan skor 4-2 di partai final.
FIFA ingin menghadirkan nuansa sejarah dengan melibatkan negara-negara yang memiliki peran penting dalam awal perjalanan kompetisi tersebut.
Argentina dipilih karena berstatus finalis pada Piala Dunia pertama, sedangkan Uruguay menjadi penyelenggara sekaligus juara edisi 1930.
Paraguay turut dilibatkan karena menjadi markas besar CONMEBOL yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan sepak bola dunia.
FIFA menjelaskan, “Uruguay akan menjadi tuan rumah satu pertandingan sebagai penghormatan karena menjadi penyelenggara Piala Dunia pertama pada 1930, sementara pertandingan di Argentina menjadi pengakuan atas status mereka sebagai runner-up pada turnamen tersebut.”
“Paraguay juga akan menjadi tuan rumah satu pertandingan karena merupakan markas CONMEBOL, satu-satunya konfederasi sepak bola antarbenua yang sudah berdiri pada masa itu.”
Status tersebut membuat Argentina tidak perlu mengikuti babak kualifikasi zona CONMEBOL menuju Piala Dunia 2030.
FIFA menilai pertandingan pembuka yang digelar di Amerika Selatan merupakan bagian resmi dari penyelenggaraan turnamen sehingga hak sebagai tuan rumah tetap berlaku.
Kebijakan itu sekaligus memastikan Argentina mengamankan satu tempat di putaran final empat tahun sebelum kompetisi dimulai.
Format tersebut berbeda dengan UEFA Euro 2028 yang tetap mewajibkan Inggris, Wales, Skotlandia, dan Republik Irlandia menjalani babak kualifikasi meski menjadi tuan rumah.
Selain format tuan rumah, FIFA juga tengah mempertimbangkan penambahan jumlah peserta menjadi 64 negara pada edisi peringatan seabad tersebut.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyatakan wacana itu masih dalam tahap pembahasan setelah format terbaru mendapat respons positif.
Di sisi lain, Presiden CONMEBOL Alejandro Dominguez mendukung gagasan tersebut sebagai momentum memperluas partisipasi sepak bola dunia.
Ia menulis, “Pada 2030, Piala Dunia akan hadir di Uruguay, Argentina, dan Paraguay, menjadi kesempatan besar bagi sepak bola untuk merayakan seabad Piala Dunia dengan turnamen yang diikuti 64 tim.”
Apabila disetujui, Piala Dunia 2030 tidak hanya menjadi edisi paling bersejarah, tetapi juga berpotensi menjadi turnamen terbesar sepanjang sejarah FIFA.***



