WONOSOBO – Nama panggilan MBG yang sempat viral ternyata menyimpan kisah haru seorang ibu di Wonosobo yang menjadikan program Makan Bergizi Gratis sebagai bagian penting dalam perjalanan hidup keluarganya.
Zuharni, 41 tahun, mengaku kehidupannya berubah setelah hampir setahun bergabung sebagai relawan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sapuran Jolontoro, Wonosobo, Jawa Tengah.
Sebelum bekerja di SPPG, ia mengandalkan usaha berjualan pakaian keliling selama sekitar lima tahun dengan penghasilan yang tidak selalu menentu.
Kesempatan menjadi relawan membuatnya memperoleh pemasukan tetap sekaligus bekerja dekat rumah sehingga tetap dapat mendampingi ketiga anaknya setiap hari.
Anak pertama Zuharni kini duduk di kelas 2 SMA, anak keduanya berada di kelas 2 SD, sedangkan putra bungsunya masih berusia sekitar 23 hari saat kisah ini direkam.
Kelahiran anak ketiganya kemudian melahirkan cerita yang menarik sekaligus menyentuh perhatian banyak orang.
Zuharni memberi nama putranya Muhammad Bintang Gemilang Subianto sehingga inisial tiga nama pertamanya membentuk singkatan MBG.
Semula ia ingin menamai putranya Muhammad MBG Subianto, namun keinginan itu tidak dapat diwujudkan karena singkatan tidak diperbolehkan menjadi nama resmi.
Ia kemudian menyusun nama lengkap yang tetap menghasilkan inisial MBG sehingga makna yang diinginkan tetap terjaga.
Di lingkungan keluarga dan para tetangga, sang buah hati lebih akrab dipanggil MBG daripada nama lengkapnya.
Bagi Zuharni, nama tersebut bukan sekadar rangkaian huruf, melainkan lambang rasa syukur atas kesempatan bekerja yang mengubah kondisi ekonomi keluarganya.
Pendapatan dari pekerjaannya di SPPG dinilai mampu membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus membiayai pendidikan anak-anaknya.
“Saya sebut nama kerjaan itu karena saking sukanya, saking bersyukurnya. Berterima kasih saya,” kata Zuharni.
Kisah tersebut mendapat sambutan positif dari keluarga, rekan kerja, hingga warga sekitar yang menganggap nama MBG unik sekaligus memiliki makna mendalam.
Meski terdengar sederhana, nama itu menjadi pengingat atas perjalanan hidup yang membawa harapan baru bagi keluarganya.
“Kerja tidak buat kita kaya sih, cuma cukup. Bisa buat hari-hari, bayar anak-anak sekolah, terus yang lain-lain itu alhamdulillah cukup,” katanya.
Zuharni berharap Program Makan Bergizi Gratis terus berlanjut agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat melalui peningkatan gizi sekaligus pembukaan lapangan kerja.
Kisahnya menunjukkan bahwa sebuah program pemerintah juga dapat menghadirkan cerita personal yang tumbuh dari pengalaman nyata masyarakat.
Bagi Zuharni, MBG bukan hanya nama sebuah program, tetapi simbol kesempatan, rasa syukur, dan perubahan yang kini diabadikan dalam nama putra tercintanya.***



