TEHERAN — Eskalasi konflik geopolitik kembali memanas setelah Iran melontarkan ancaman keras, sebagai balasan atas ancaman Donald Trump.
Hal ini berpotensi mengguncang stabilitas energi global dan memicu lonjakan harga minyak dunia dalam jangka panjang.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf.
Ia menegaskan bahwa setiap serangan terhadap infrastruktur energi negaranya akan dibalas dengan target serupa di seluruh kawasan Timur Tengah.
“Seketika setelah pembangkit dan infrastruktur listrik negara kami diserang, semua infrastruktur vital di seantero kawasan.”
“Termasuk infrastruktur energi dan minyak, akan dianggap sebagai sasaran tembak yang sah,” kata ketua parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf melalui media sosial X, Ahad.
Ancaman tersebut muncul sebagai respons langsung terhadap ultimatum dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Trump sebelumnya memperingatkan akan menghancurkan fasilitas listrik utama Iran jika Teheran tidak membuka jalur strategis Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Dalam pernyataan lanjutannya, Ghalibaf memperingatkan bahwa langkah balasan Iran tidak hanya akan berdampak regional.
Tetapi juga berpotensi menghancurkan sistem kelistrikan kawasan sekaligus mendorong harga minyak melonjak drastis dalam waktu lama.
Situasi kian memanas karena Iran hingga kini masih melancarkan serangan terhadap target militer Amerika Serikat dan Israel sebagai respons atas operasi militer gabungan kedua negara tersebut yang terjadi pada akhir Februari lalu.
Serangan awal yang menjadi titik balik konflik ini juga menelan korban besar, termasuk gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta ratusan pelajar yang menjadi korban ketika fasilitas pendidikan di wilayah selatan Iran terkena serangan rudal.
Otoritas Iran melaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat serangan tersebut kini telah mencapai sekitar 1.300 orang, mempertegas besarnya dampak kemanusiaan dari konflik yang terus berkembang ini.
Ketegangan terbaru ini menempatkan kawasan Timur Tengah dalam situasi rawan krisis energi global, mengingat peran vital wilayah tersebut sebagai pemasok utama minyak dunia.***