JAKARTA – Dua gempa bumi berkekuatan signifikan magnitudo 6,1 terjadi hampir berurutan pada Minggu siang, 22 Maret 2026.
Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) gempa tersebut mengguncang wilayah lepas pantai Kamchatka dan Kepulauan Tonga.
Gempa pertama tercatat terjadi pada pukul 13.15 WIB di wilayah Kepulauan Tonga dengan kekuatan magnitudo 6,1 dan kedalaman dangkal sekitar 10 kilometer yang berpotensi memicu getaran kuat di sekitar pusat gempa.
Selang sekitar satu jam, gempa kedua kembali terjadi pada pukul 14.19 WIB di lepas pantai timur Kamchatka dengan magnitudo yang sama yakni 6,1 serta kedalaman 10 kilometer yang dikategorikan sebagai gempa dangkal dan berisiko terasa lebih kuat di permukaan.
Data koordinat menunjukkan gempa Tonga berada di titik 15,64 LS dan 173,00 BB, sementara gempa Kamchatka berada di posisi 52,53 LU dan 160,53 BT yang keduanya termasuk dalam kawasan cincin api Pasifik yang aktif secara tektonik.
Rangkaian aktivitas seismik di Tonga sebelumnya menunjukkan frekuensi getaran berulang dengan magnitudo konsisten di angka 6,0 sebelum akhirnya diperbarui menjadi 6,1 setelah analisis lanjutan dari sistem pemantauan gempa.
Catatan sistem juga mengungkap adanya puluhan pembaruan data gempa dalam rentang waktu singkat yang mengindikasikan aktivitas tektonik intens di wilayah tersebut.
Sementara itu, gempa di Kamchatka terdeteksi dengan jumlah fase gelombang mencapai 53 yang menandakan validitas data telah terkonfirmasi oleh sistem pemantauan global.
Kedua gempa ini memiliki karakteristik serupa yakni terjadi pada kedalaman dangkal sekitar 10 kilometer yang umumnya meningkatkan potensi guncangan terasa luas meskipun lokasi berada di laut.
Meski demikian, hingga laporan ini disusun belum terdapat informasi resmi terkait dampak kerusakan maupun potensi tsunami dari kedua kejadian gempa tersebut.
Para ahli menyebut wilayah Tonga dan Kamchatka merupakan bagian dari jalur subduksi aktif sehingga gempa dengan magnitudo menengah hingga besar kerap terjadi secara periodik.
Analisis moment tensor pada gempa Tonga menunjukkan mekanisme pergerakan lempeng dengan karakter dominan dorongan naik yang lazim terjadi pada zona subduksi aktif.
Kondisi ini mempertegas bahwa aktivitas tektonik di kawasan Pasifik masih berada dalam fase dinamis dan perlu terus dipantau secara intensif.***