WASHINGTON, AS — Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon mulai bergerak cepat mengisi kembali persediaan rudalnya yang terkuras akibat perang melawan Iran. Pemerintahan Presiden Donald Trump kini meneken kontrak besar-besaran dengan sejumlah perusahaan pertahanan untuk memproduksi hingga 10.000 rudal murah berbasis kontainer.
Langkah agresif ini menjadi sinyal kuat bahwa Washington tengah menghadapi tekanan serius terhadap cadangan amunisi strategisnya setelah konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Pentagon bahkan mengakui kebutuhan mendesak untuk mempercepat produksi senjata dengan biaya lebih rendah namun dalam jumlah masif.
Program baru tersebut diberi nama Low-Cost Containerized Missiles (LCCM) atau Rudal Kontainer Berbiaya Rendah. Dalam proyek ini, Pentagon menggandeng perusahaan pertahanan Anduril, CoAspire, Leidos, dan Zone 5.
Tak hanya itu, Pentagon juga mengumumkan kerja sama terpisah dengan perusahaan Castelion untuk pengadaan rudal hipersonik murah Blackbeard. Dalam skema awal, AS menargetkan pembelian sedikitnya 500 rudal hipersonik per tahun.
Kesepakatan dengan Castelion berdurasi dua tahun dengan opsi perpanjangan hingga lima tahun. Pentagon menyebut pihaknya tengah mengupayakan tambahan anggaran dan otorisasi guna membeli ribuan rudal hipersonik lain demi memperbesar kapasitas produksi perusahaan tersebut.
Situasi ini memperlihatkan betapa seriusnya dampak perang AS-Israel melawan Iran terhadap stok persenjataan Amerika. Konflik yang kini memasuki fase gencatan senjata itu disebut telah menguras banyak persediaan amunisi penting milik Washington.
Wakil Menteri Pertahanan untuk Penelitian dan Rekayasa, Emil Michael, mengatakan pemerintah AS kini menargetkan percepatan produksi senjata dalam skala besar.
“Kami akan menyediakan pasokan massal yang terjangkau untuk para prajurit kami dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujar Michael seperti dikutip Anadolu, Kamis (14/5/2026).
Ia menegaskan model kerja sama baru ini dirancang untuk memastikan industri pertahanan AS mampu memenuhi target produksi secara cepat dan efisien.
“Perjanjian kerangka kerja ini mengikat industri Amerika untuk pengiriman tepat waktu dan sesuai biaya serta investasi dalam riset, pengembangan, dan fasilitas,” katanya.
Michael juga menyebut pola kemitraan tersebut sejalan dengan strategi transformasi pengadaan militer yang didorong Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth.
Pentagon Mulai Produksi Uji Coba
Sebagai tahap awal, Departemen Pertahanan AS akan mulai membeli rudal uji coba dari empat perusahaan mitra pada Juni mendatang. Pengadaan awal itu disebut menjadi fondasi untuk memasuki fase evaluasi program LCCM secara penuh.
Pentagon menilai model rudal murah berbasis kontainer akan menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan perang modern yang membutuhkan volume amunisi tinggi dalam waktu singkat.
Selain lebih murah, sistem tersebut dinilai dapat mempercepat distribusi dan penyimpanan rudal di berbagai titik operasi militer.
Stok Rudal AS Disebut Kritis
Di tengah ambisi mempercepat produksi, laporan lembaga think tank Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkap kondisi stok rudal Amerika sebenarnya sudah berada dalam tekanan bahkan sebelum perang Iran pecah.
Dalam laporan yang dirilis bulan lalu, CSIS memperkirakan Washington membutuhkan waktu hingga empat tahun untuk mengembalikan cadangan rudal ke level sebelum perang.
Lamanya waktu pemulihan dipicu kapasitas produksi yang terbatas serta tingginya persaingan global dalam perebutan pasokan senjata dan komponen pertahanan.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan pengamat keamanan internasional. Sebab, kemampuan tempur Amerika Serikat dinilai dapat terganggu apabila konflik besar kembali pecah saat stok amunisi belum sepenuhnya pulih.
Langkah Pentagon memborong ribuan rudal murah kini dipandang bukan sekadar proyek modernisasi militer, melainkan bagian dari upaya darurat untuk menutup kekurangan persenjataan strategis akibat perang yang menguras sumber daya militer AS secara besar-besaran.