TEHERAN, IRAN – Hubungan Iran dan Kuwait memanas tajam setelah pemerintah Kuwait menangkap empat warga negara Iran yang dituding terkait Garda Revolusi Iran di kawasan strategis Teluk Persia. Teheran bereaksi keras dan menuduh Kuwait bermain dalam skenario Amerika Serikat untuk menekan Iran di tengah memuncaknya tensi geopolitik Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melontarkan peringatan terbuka kepada Kuwait. Dalam unggahan di media sosial X, Araghchi mendesak empat warga Iran segera dibebaskan dan menyebut penahanan tersebut sebagai tindakan ilegal yang bisa memicu konsekuensi serius.
“Tindakan ilegal ini terjadi di dekat pulau yang digunakan Amerika Serikat untuk menyerang Iran,” tegas Araghchi seperti dikutip Associated Press.
Pernyataan keras itu memperlihatkan kemarahan Teheran yang menilai Kuwait mulai terseret dalam pusaran konflik antara Iran dan Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Penyusupan di Pulau Strategis Picu Alarm Kawasan
Pemerintah Kuwait sebelumnya mengumumkan empat pria ditangkap dan dua lainnya melarikan diri saat mencoba masuk ke Pulau Bubiyan pada 1 Mei 2026.
Pulau tersebut bukan wilayah biasa. Bubiyan berada di titik strategis Teluk Persia dan menjadi lokasi pembangunan Pelabuhan Mubarak Al Kabeer, proyek raksasa yang terhubung dengan ambisi perdagangan global China.
Kawasan itu juga memiliki nilai militer tinggi karena berada dekat jalur operasi Amerika Serikat di Teluk. Iran bahkan pernah menyerang wilayah tersebut pada masa konflik sebelumnya.
Kuwait menduga para pria yang ditangkap memiliki hubungan dengan Garda Revolusi Iran. Namun hingga kini, otoritas setempat belum membeberkan detail lengkap operasi maupun dugaan misi yang dijalankan para tersangka.
Insiden ini langsung memantik spekulasi soal operasi intelijen, perang bayangan, hingga perebutan pengaruh di Timur Tengah yang kembali memanas.
Iran Tuduh Kuwait Bermain untuk Amerika
Teheran memandang penangkapan itu bukan sekadar operasi keamanan biasa. Iran mencurigai Kuwait ikut membuka jalan bagi kepentingan Washington di kawasan Teluk Persia.
Selama bertahun-tahun, Iran menuding Amerika Serikat memperkuat cengkeraman militernya lewat kerja sama dengan negara-negara Teluk. Kini, penangkapan empat warga Iran disebut menjadi bukti baru meningkatnya tekanan terhadap Teheran.
Ketegangan kawasan sendiri terus meningkat setelah rentetan serangan dan operasi militer yang melibatkan kelompok-kelompok pro-Iran di Timur Tengah.
Aktivis HAM Iran Tiba-Tiba Dibebaskan
Di tengah memuncaknya konflik diplomatik tersebut, Iran juga membuat kejutan dengan membebaskan pengacara HAM ternama Nasrin Sotoudeh setelah lebih dari sebulan ditahan.
Sotoudeh dikenal sebagai figur vokal yang membela aktivis oposisi dan perempuan Iran yang ditangkap karena melepas jilbab di ruang publik.
Ia sebelumnya diciduk aparat intelijen Iran di rumahnya di Teheran pada April 2026.
Kelompok pemantau HAM berbasis di Amerika Serikat menyebut Sotoudeh dibebaskan dengan jaminan dari Penjara Evin, penjara yang selama ini identik dengan tahanan politik Iran.
Putrinya, Mehraveh Khandan, ikut mengonfirmasi pembebasan sementara tersebut melalui media sosial. Sementara kantor berita semiresmi Iran, ISNA, turut memberitakan kabar itu.
Trump Masuk Panggung, Diplomasi Memanas
Pembebasan Sotoudeh terjadi bersamaan dengan lawatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke China yang diyakini turut membahas konflik Iran dalam agenda diplomatiknya.
Momentum itu memicu dugaan bahwa Teheran sedang memainkan kartu politik untuk meredam tekanan internasional terkait isu HAM dan konflik kawasan.
Namun di sisi lain, penangkapan warga Iran di Kuwait justru memperlihatkan bara konflik Timur Tengah belum benar-benar padam.
Dengan Amerika Serikat, Iran, dan negara-negara Teluk kembali saling menekan, kawasan Teluk Persia kini berada dalam situasi yang dinilai semakin rawan meledak sewaktu-waktu.