JAKARTA – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengecam laporan yang menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diam-diam berkunjung ke Uni Emirat Arab (UEA) selama konflik dengan Iran. Ia menilai setiap bentuk kerja sama rahasia dengan Israel sebagai “tidak dapat dimaafkan.”
Dalam unggahan di X, Araghchi menyebut permusuhan terhadap rakyat Iran sebagai “pertaruhan bodoh” dan memperingatkan bahwa pihak yang “bersekongkol dengan Israel untuk menabur perpecahan akan dimintai pertanggungjawabannya.”
Kontroversi mencuat setelah Kantor Perdana Menteri Israel mengumumkan Netanyahu bertemu dengan Presiden UEA Mohammed bin Zayed Al Nahyan di tengah perang, yang disebut menghasilkan “terobosan bersejarah.” Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri UEA, Afra Al Hameli, membantah klaim tersebut. Ia menegaskan bahwa hubungan UEA-Israel dijalankan secara terbuka dalam kerangka Kesepakatan Abraham, bukan melalui “kesepakatan rahasia atau informal.”
Laporan Axios sebelumnya menyebut kerja sama militer dan intelijen Israel-UEA meningkat selama konflik, termasuk pengerahan sistem pertahanan Iron Dome dan personel militer Israel ke UEA. Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, turut mengonfirmasi hal itu dalam konferensi di Tel Aviv.
Sejak perang pecah pada 28 Februari akibat serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran, Teheran melancarkan serangan rudal dan drone ke negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS. UEA menjadi salah satu target utama, dengan Kementerian Pertahanan melaporkan telah mencegat 2.265 drone, 29 rudal jelajah, dan 551 rudal balistik sejak awal konflik.