Kabar duka menyelimuti markas besar OnlyFans. Leonid “Leo” Radvinsky, pria yang membawa platform tersebut mencapai puncak popularitas global, dinyatakan meninggal dunia dengan tenang pada Selasa (24/3/2026). Juru bicara OnlyFans mengonfirmasi bahwa pengusaha kelahiran Ukraina tersebut mengembuskan napas terakhirnya setelah berjuang melawan penyakit kanker.
“Leo meninggal dunia dengan tenang. Pihak keluarga memohon privasi di masa sulit ini,” tulis pernyataan resmi perusahaan seperti dikutip dari Gizmodo.
Sosok Pendiam dengan Kekayaan Fantastis
Lahir di Ukraina dan besar di Chicago, Radvinsky mengakuisisi OnlyFans pada 2018 dari tangan pendiri aslinya di Inggris. Di tangannya, platform ini meledak, terutama saat pandemi COVID-19 melanda dunia. Per Mei 2025, kekayaan pribadinya ditaksir mencapai USD 3,8 miliar (sekitar Rp60 triliun), menjadikannya salah satu investor teknologi paling berpengaruh namun tetap menjaga profil rendah (low profile).
Membangun Imperium di Tengah Stigma
Meskipun OnlyFans menampung kreator dari berbagai bidang seperti memasak hingga olahraga, platform ini identik dengan konten dewasa. Di bawah kepemimpinan Radvinsky, OnlyFans mencatat angka pertumbuhan yang mencengangkan:
- Pengguna: Lebih dari 377 juta pelanggan.
- Kreator: 4,6 juta orang yang menggantungkan hidup di platform tersebut.
- Pendapatan: Meraup USD 1,4 miliar (sekitar Rp23,5 triliun) hanya pada tahun 2024.
Namun, kejayaan ini bukan tanpa badai. Radvinsky seringkali harus berhadapan dengan regulator terkait pengawasan konten ilegal. Momen paling dramatis terjadi pada Agustus 2021, saat ia sempat berencana melarang konten pornografi di situsnya—sebuah keputusan yang langsung dibatalkan hanya dalam hitungan hari setelah mendapat protes keras dari komunitas kreator dunia.
Masa Depan OnlyFans yang Menggantung
Mangkatnya Radvinsky meninggalkan tanda tanya besar mengenai masa depan kepemilikan OnlyFans. Tahun lalu, ia dikabarkan tengah berdiskusi dengan firma investasi Architect Capital untuk menjual 60% sahamnya senilai USD 2 miliar.
Proses penjualan ini dikabarkan berjalan alot karena adanya ‘stigma pornografi’ yang membuat beberapa bank investasi ragu untuk terlibat. Kini, dengan kepergian sang pemilik utama, publik menanti siapa yang akan memegang kendali atas platform yang telah mengubah cara jutaan orang berinteraksi dengan idolanya tersebut.