JAKARTA โ Kegagalan Timnas Italia kembali menjadi sorotan tajam setelah tersingkir dari kompetisi besar, memicu kritik keras dari mantan striker legendaris Timnas Jerman, Oliver Bierhoff yang menilai sepak bola Italia belum beradaptasi dengan tuntutan era modern.
Dalam analisis terbarunya, Oliver Bierhoff menegaskan bahwa kemunduran Italia bukan sekadar kebetulan, melainkan akumulasi masalah struktural yang telah berlangsung lama dan belum terselesaikan secara menyeluruh.
Situasi ini semakin menegaskan bahwa Italia harus melakukan reformasi besar-besaran jika ingin kembali bersaing di level tertinggi sepak bola dunia, terutama dalam hal pembinaan pemain muda dan peningkatan kualitas kompetisi domestik.
Bierhoff menyebut bahwa kegagalan terbaru Italia tidak bisa lagi dianggap sebagai insiden tunggal karena terjadi berulang kali dalam beberapa tahun terakhir.
Pemain yang membela AC Milam musim 1198-2001 iniย menilai kekalahan tersebut dipengaruhi dua faktor utama yakni situasi pertandingan yang berubah akibat kartu merah serta penurunan kualitas individu pemain Italia secara keseluruhan.
โJika ini terjadi tiga kali berturut-turut, maka jelas ini bukan kebetulan,โ ujar Bierhoff dikutip dari Gazzetta, Kamis (2/4/2026).
Menurutnya, Italia saat ini tidak lagi memiliki pemain dengan daya tarik tinggi di pasar klub elite Eropa seperti halnya Spanyol atau Portugal.
Ia menegaskan bahwa minimnya pemain Italia yang diminati klub besar menjadi indikator nyata menurunnya kualitas skuad nasional.
Bierhoff juga menyoroti bahwa keberhasilan Italia di Euro sebelumnya hanya menutupi kelemahan mendasar yang sebenarnya belum terselesaikan.
โKesuksesan itu lebih karena kekuatan tim sebagai kolektif, bukan karena kualitas individu yang luar biasa,โ katanya.
Terkait pelatih Gennaro Gattuso, Bierhoff memberikan pembelaan dengan menyebut sang pelatih telah berhasil membangun semangat juang tim.
Namun ia menegaskan bahwa determinasi saja tidak cukup tanpa dukungan kualitas pemain yang memadai.
Ia juga menyoroti kegagalan regenerasi pemain muda Italia yang dinilai tidak mampu menembus level tertinggi meski menunjukkan potensi besar di level junior.
Menurut Bierhoff, faktor mentalitas dan keinginan untuk berkembang di luar zona nyaman menjadi kendala utama bagi pemain muda Italia.
Lebih lanjut, ia menilai sepak bola Italia tertinggal secara gaya bermain karena masih bertahan pada pendekatan lama yang tidak lagi relevan dengan dinamika sepak bola modern.
โPermainan sekarang lebih cepat, lebih fisik, dan lebih menyerang, sementara Italia masih seperti di era 90-an,โ tegasnya.
Sebagai perbandingan, Bierhoff mengungkapkan bahwa Jerman pernah mengalami krisis serupa di awal 2000-an sebelum melakukan reformasi total.
Ia menjelaskan bahwa federasi sepak bola Jerman membangun akademi pemain muda secara sistematis serta meningkatkan kualitas pelatihan pelatih.
Program tersebut, menurutnya, membutuhkan waktu sekitar satu dekade hingga akhirnya membuahkan hasil nyata.
Hasilnya, Jerman berhasil bangkit dan mencapai puncak dengan menjuarai Piala Dunia FIFA 2014 setelah melalui proses panjang dan konsisten.
โTidak ada solusi instan atau pelatih ajaib, semua harus dibangun dari dasar,โ ungkap Bierhoff.
Selain aspek teknis, ia juga menyoroti pentingnya faktor sosial dalam perkembangan sepak bola modern.
Bierhoff mencontohkan keberhasilan Prancis yang banyak ditopang pemain berlatar belakang imigran dengan motivasi tinggi untuk sukses.
Menurutnya, semangat dan โrasa laparโ untuk berkembang menjadi faktor krusial yang harus dimiliki pemain muda di era saat ini.
Ia pun mengingatkan bahwa Italia perlu membuka diri terhadap perubahan dan berani melakukan transformasi menyeluruh jika ingin keluar dari krisis berkepanjangan.***