TEHERAN, IRAN – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Teheran mengklaim berhasil menembak jatuh jet tempur siluman F-35 milik AS di wilayah tengah negara tersebut. Insiden ini disebut sebagai yang pertama sejak konflik kedua negara pecah pada akhir Februari 2026.
Juru bicara markas pusat pertahanan Iran pada Jumat (3/4/2026) menyatakan bahwa pesawat tempur F-35 kedua milik AS berhasil dilumpuhkan oleh sistem pertahanan udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Pernyataan tersebut disampaikan melalui markas Khatam al-Anbiya.
Dalam keterangannya, pihak Iran menyebut peluang pilot untuk selamat sangat kecil setelah pesawat mengalami kehancuran saat jatuh.
Seiring klaim tersebut, sejumlah foto yang diduga memperlihatkan puing-puing pesawat langsung beredar luas di media sosial. Gambar-gambar itu menampilkan bagian ekor pesawat yang disebut-sebut sebagai sisa dari jet tempur yang ditembak jatuh.
Namun, analisis sejumlah pengguna media sosial justru meragukan klaim tersebut. Mereka menilai serpihan yang terlihat tidak menyerupai bagian dari F-35, melainkan lebih mirip komponen jet tempur F-15E Strike Eagle. Selain itu, emblem yang tampak pada puing diduga mengarah pada pesawat yang berbasis di RAF Lakenheath, Inggris.
RAF Lakenheath sendiri merupakan pangkalan bagi Skuadron Tempur ke-48, yang berada di bawah Angkatan Udara Amerika Serikat di kawasan Eropa dan Afrika.
Di sisi lain, Komando Sentral AS (CENTCOM) dengan tegas membantah klaim Iran. Dalam pernyataan resminya, CENTCOM memastikan tidak ada satu pun pesawat tempur AS yang jatuh di wilayah tersebut, termasuk di sekitar Pulau Qeshm di Selat Hormuz.
“Semua pesawat tempur AS telah terdata. IRGC Iran telah membuat klaim palsu yang sama setidaknya setengah lusin kali,” demikian pernyataan CENTCOM yang diunggah melalui platform X.
Sebelumnya, militer AS memang sempat melaporkan insiden yang melibatkan jet tempur F-35. Dalam keterangan resmi bulan lalu, disebutkan bahwa salah satu pesawat melakukan pendaratan darurat usai menjalankan misi di atas wilayah Iran. Pilot dilaporkan dalam kondisi stabil.
Perbedaan klaim antara kedua pihak ini semakin mempertegas kabut informasi di tengah konflik yang terus berkembang, sekaligus memicu spekulasi publik terkait kebenaran insiden yang terjadi di lapangan.