ALJAZAIR, AFRIKA – Kunjungan apostolik Paus Leo XIV ke Afrika resmi dimulai dengan agenda padat di Aljazair yang langsung menyoroti pesan kuat tentang perdamaian, dialog lintas agama, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Hari pertama perjalanan Paus Leo XIV di Aljazair menjadi sorotan dunia karena rangkaian kegiatan diplomatik dan spiritual yang mencerminkan komitmen Vatikan dalam memperkuat hubungan antarumat beragama di kawasan Afrika.
Kunjungan ini merupakan bagian dari tur panjang Paus ke empat negara Afrika yakni Aljazair, Kamerun, Angola, dan Guinea Khatulistiwa yang dijadwalkan berlangsung pada 13 hingga 23 April dengan fokus utama pada misi kemanusiaan dan rekonsiliasi global.
Mengutip laporan Vatican News, setibanya di ibu kota Aljir, Paus langsung mengunjungi Monumen Syuhada Maqam Echahid yang menjadi simbol perjuangan rakyat Aljazair dalam perang kemerdekaan melawan kolonialisme pada 1954 hingga 1962.
Dalam pidato publik pertamanya, Paus menegaskan bahwa masa depan dunia berada di tangan mereka yang memilih jalan damai serta mengingatkan bahwa kebebasan sejati adalah pilihan yang harus diperjuangkan setiap hari, bukan sekadar warisan sejarah.
Agenda kemudian berlanjut ke Istana Kepresidenan untuk pertemuan kehormatan dengan Presiden Aljazair sebelum menghadiri forum bersama pejabat negara, masyarakat sipil, dan korps diplomatik di pusat konferensi Djamaa El Djazair.
Dalam forum tersebut, Paus menyerukan para pemimpin dunia untuk mengedepankan empati dan menghormati martabat setiap individu guna mencegah konflik yang dipicu oleh kesalahpahaman.
Pada sore hari, Paus Leo XIV mengunjungi Masjid Agung Aljir dan melakukan refleksi hening bersama pimpinan masjid, sekaligus menegaskan pentingnya saling menghormati di tengah keberagaman agama.
Kunjungan ke masjid ini memiliki makna simbolis yang kuat mengingat Aljazair merupakan negara dengan mayoritas Muslim, sementara komunitas Kristen hadir sebagai minoritas yang tetap aktif dan dinamis.
Paus kemudian melanjutkan agenda dengan mengunjungi komunitas Suster Misionaris Agustinian di Bab El Oued untuk mengenang para biarawati yang gugur pada masa konflik sipil Aljazair di era 1990-an.
Dalam kesempatan tersebut, Paus menekankan bahwa pengorbanan para suster mencerminkan nilai spiritualitas yang mendalam, yakni kesaksian iman hingga titik pengorbanan tertinggi.
Sebagai bentuk apresiasi, Paus juga menyampaikan terima kasih atas dedikasi para biarawati yang terus menjalankan misi sosial dan kemanusiaan di tengah masyarakat.
Agenda hari pertama ditutup dengan pertemuan bersama komunitas Katolik di Basilika Bunda Maria Afrika yang berlangsung meriah meski diguyur hujan dan angin kencang.
Dalam pertemuan itu, Paus mendengarkan kisah hidup harmonis dari berbagai pemeluk agama yang menunjukkan bahwa persatuan tetap mungkin terwujud di tengah perbedaan.
Ia menegaskan bahwa pengalaman hidup damai antarumat beragama di Aljazair menjadi simbol harapan bagi dunia yang masih dilanda konflik dan perpecahan.
Paus Leo XIV kemudian mengakhiri rangkaian kegiatan hari pertama dengan pertemuan tertutup bersama para uskup sebelum kembali ke Nunsiatur Apostolik.***