JAKARTA – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menghapus sebuah unggahan di platform Truth Social yang menampilkan dirinya sebagai sosok menyerupai Yesus Kristus, setelah menuai kecaman dari sejumlah pemimpin agama.
Gambar buatan AI itu memperlihatkan Trump mengenakan jubah merah dan putih, menyentuh dahi seseorang yang tampak sakit, dengan cahaya memancar dari tangan dan kepalanya. Bendera Amerika berkibar di latar belakang, sementara sejumlah tokoh digambarkan menatapnya penuh hormat. Unggahan tersebut muncul pada Minggu malam dan dihapus pada Senin, dilansir dari Hurriyet Daily News, Selasa (14/4/2026).
Ketika ditanya mengenai unggahan itu, Trump membantah mencoba menyerupai Yesus. “Saya memang mengunggahnya, dan saya pikir itu adalah foto saya sebagai dokter yang harus berpartisipasi dalam Palang Merah,” katanya kepada wartawan. “Seharusnya itu adalah foto saya sebagai dokter yang membuat orang sembuh. Dan saya memang membuat orang sembuh. Saya membuat orang sembuh jauh lebih baik.”
Unggahan tersebut memicu kritik keras dari kalangan Kristen konservatif, termasuk jurnalis Megan Basham yang menulis di X: “Saya tidak tahu apakah Presiden mengira dia sedang bercanda atau apakah dia berada di bawah pengaruh suatu zat atau penjelasan apa pun yang mungkin dia miliki untuk penghujatan yang SANGAT KETERLALUAN ini. Dia harus segera menghapus ini dan meminta maaf kepada rakyat Amerika dan kemudian kepada Tuhan.”
Trump sebelumnya juga pernah menggunakan simbol religius dalam unggahannya. Pada persidangan kasus penipuan bank tahun 2023, ia membagikan sketsa yang menggambarkan dirinya duduk di samping Yesus di ruang sidang. Bahkan, sejumlah penasihat spiritualnya kerap menempatkan Trump dalam peran mirip mesianik.
Menurut Matthew Taylor, cendekiawan tamu di Center on Faith and Justice Universitas Georgetown, Trump semakin antusias merangkul peran tersebut setelah lolos dari upaya pembunuhan pada Juli 2024. “Banyak orang mengatakan kepada saya bahwa Tuhan menyelamatkan hidup saya karena suatu alasan, dan alasan itu adalah untuk menyelamatkan negara kita dan mengembalikan Amerika ke kejayaan,” kata Trump dalam pidato kemenangannya usai pemilu 2024.
Taylor menilai unggahan bergambar Yesus itu berpotensi memperdalam perpecahan di basis pendukung Trump, khususnya umat Katolik yang tersinggung oleh perseteruannya dengan Paus Leo terkait pemboman AS di Iran. Namun, sejarawan Kristin du Mez dari Universitas Calvin menilai dukungan inti terhadap Trump tidak akan goyah. “Para pendukungnya yang beragama Kristen konservatif menjaga jarak dari apa yang jelas-jelas dianggap sebagai penistaan agama,” ujarnya. “Tapi saya juga melihat banyak pengelakan… Yang tidak saya lihat adalah indikasi bahwa mereka tidak akan terus mendukung orang itu.”