PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), pemegang lisensi tunggal KFC di tanah air, menunjukkan tanda-tanda pemulihan meski masih harus “berdarah-darah”. Berdasarkan laporan keuangan terbaru tahun 2025, perusahaan berhasil memangkas rugi bersih hingga 54,05% menjadi Rp366,04 miliar, jauh lebih baik dibanding lubang kerugian Rp796,71 miliar pada tahun sebelumnya.
Meski kerugian menyusut, kondisi keuangan raksasa fast food ini masih berada di zona waspada. Tekanan operasional yang tinggi memaksa manajemen melakukan langkah drastis: penutupan gerai secara permanen.
Realita di Lapangan: Penutupan Gerai dan PHK
Sepanjang 2025, sebanyak 25 gerai KFC resmi berhenti beroperasi. Dari 715 unit di akhir 2024, kini hanya tersisa 690 gerai yang masih melayani pelanggan. Langkah efisiensi ini berdampak langsung pada sisi kemanusiaan, di mana lebih dari 1.000 karyawan terpaksa kehilangan pekerjaan (PHK) karena unit tempat mereka bekerja tidak lagi menunjukkan performa yang sehat.
Wachjudi Martono, Direktur FAST, menjelaskan bahwa langkah pahit ini diambil karena masa kontrak sewa yang berakhir serta lokasi gerai yang gagal pulih pasca-pandemi.
Neraca Keuangan: Liabilitas Membengkak
Satu hal yang menjadi sorotan tajam investor adalah kesehatan neraca perusahaan. Total liabilitas (utang) FAST membengkak hingga Rp4,51 triliun, angka yang sangat kontras jika dibandingkan dengan ekuitas yang hanya sebesar Rp435,8 miliar. Ketimpangan ini menunjukkan beban kewajiban yang sangat berat bagi perusahaan untuk berekspansi di masa depan.
Di balik angka-angka merah tersebut, terdapat secercah harapan yang membuat manajemen tetap optimis menatap tahun 2026:
-
Arus Kas Positif: Arus kas operasional tercatat surplus sebesar Rp203,9 miliar. Ini membuktikan bahwa secara fundamental, jualan ayam goreng KFC masih menghasilkan uang tunai yang sehat.
-
Target Laba 2026: Manajemen secara terbuka memproyeksikan perusahaan akan kembali mencetak laba bersih pada tahun 2026 lewat serangkaian penghematan biaya dan optimalisasi menu.
-
Suntikan Dana “Raksasa”: FAST tidak berjalan sendirian. Dukungan modal dari Grup Salim dan jaringan Haji Isam menjadi motor penggerak utama.
-
Ambisi 1.000 Gerai: Perusahaan tetap memegang teguh target jangka panjang untuk mencapai 1.000 gerai pada tahun 2030 dengan model gerai yang lebih efisien dan modern.
Tahun 2025 adalah tahun transisi bagi KFC Indonesia. Fokus perusahaan telah bergeser dari sekadar “banyak gerai” menjadi “gerai yang menghasilkan”. Jika efisiensi ini berjalan sesuai rencana, tahun 2026 bisa menjadi titik balik di mana sang “Jagonya Ayam” benar-benar kembali berkokok di bursa saham.