JAKARTA – Keikutsertaan Timnas Iran di Piala Dunia 2026 akhirnya menemukan titik terang setelah seluruh pemain memperoleh visa untuk memasuki Amerika Serikat sebagai salah satu negara tuan rumah turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.
Kepastian ini datang hanya sekitar sepuluh hari sebelum kick-off kompetisi dimulai, sehingga membuka jalan bagi skuad Iran untuk menjalani pertandingan fase grup sesuai jadwal yang telah ditetapkan FIFA.
Meski demikian, kabar baik tersebut tidak sepenuhnya menghapus polemik karena sejumlah anggota staf pendukung tim dilaporkan gagal mendapatkan izin masuk ke Amerika Serikat.
Laporan media Amerika menyebutkan lebih dari selusin personel pendukung, yang diperkirakan mencakup pelatih, analis pertandingan hingga tenaga medis, tidak lolos dalam proses pengajuan visa.
Situasi tersebut menambah kompleksitas penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang untuk pertama kalinya dalam sejarah berpotensi mempertemukan negara tuan rumah dengan negara yang sedang terlibat konflik bersenjata.
Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat membuat ajang olahraga yang seharusnya menjadi simbol persatuan dunia itu turut dibayangi kepentingan politik kedua negara.
Persoalan visa juga menjadi sorotan yang tidak menguntungkan bagi FIFA setelah sebelumnya badan sepak bola dunia itu menolak usulan Iran untuk memindahkan seluruh pertandingan mereka ke Meksiko.
Sebagai langkah antisipasi, federasi sepak bola Iran telah memindahkan lokasi pemusatan latihan dari Tucson, Arizona, ke Kota Tijuana di Meksiko sambil menunggu kejelasan proses visa.
Mengutip laporan The Telegraph, Sabtu (6/6/2026), sebelum menuju Amerika Utara, para pemain Iran lebih dahulu menjalani persiapan intensif di Antalya, Turki.
Seorang pejabat Amerika Serikat memastikan seluruh pemain Iran telah mendapatkan persetujuan visa dan hanya tinggal menyelesaikan tahapan administrasi terakhir sebelum melakukan perjalanan.
Pejabat lain juga mengungkapkan bahwa beberapa pelatih, staf kebugaran, dan sebagian anggota tim pendukung telah memperoleh izin masuk.
Namun, tidak semua pejabat sepak bola Iran mendapatkan perlakuan serupa.
Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, yang diketahui pernah memiliki keterkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), dilaporkan termasuk di antara nama yang visa Amerikanya ditolak.
Hingga kini belum ada kepastian kapan paspor seluruh anggota delegasi Iran akan dikembalikan setelah proses administrasi selesai, meskipun sejumlah sumber memperkirakan proses tersebut berlangsung dalam waktu dekat.
Iran juga telah mengantongi visa dari Kedutaan Besar Meksiko di Ankara sebagai bagian dari rencana perjalanan mereka selama mengikuti turnamen.
Dalam jadwal fase grup, Iran akan membuka kampanye Piala Dunia dengan menghadapi Selandia Baru di Los Angeles pada 15 Juni.
Enam hari berselang, wakil Asia tersebut kembali tampil di kota yang sama untuk menghadapi Belgia.
Pertandingan terakhir fase grup akan mempertemukan Iran dengan Mesir di Seattle pada 26 Juni.
Potensi duel panas antara Iran dan Amerika Serikat juga masih terbuka jika kedua tim berhasil lolos dari grup masing-masing dan bertemu pada babak 32 besar yang dijadwalkan berlangsung di Arlington, Texas, pada 3 Juli.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menyatakan keberatan terhadap partisipasi Iran dalam turnamen tersebut.
“Saya tidak berpikir itu tepat,” ujar Trump ketika menanggapi kemungkinan kehadiran Iran di Piala Dunia.
Pernyataan tersebut sempat memicu respons keras dari pihak Iran yang menegaskan bahwa tidak ada pihak yang berhak menghalangi mereka tampil dalam kompetisi resmi FIFA.
Beberapa waktu kemudian, Trump melunakkan sikapnya dan tidak lagi secara terbuka menentang kehadiran tim nasional Iran.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio juga pernah menyampaikan bahwa para pemain Iran akan diterima untuk berkompetisi, meskipun individu yang memiliki hubungan dengan IRGC dapat menghadapi pembatasan masuk.
Iran sendiri telah mengumumkan daftar final pemain pada awal pekan ini.
Menariknya, sebanyak 17 pemain berasal dari kompetisi domestik yang sudah lama tidak bergulir akibat dampak konflik yang melanda negara tersebut.
Salah satu keputusan yang menyita perhatian adalah absennya penyerang andalan Sardar Azmoun.
Striker berpengalaman itu dicoret dari skuad sejak Maret lalu dan disebut-sebut berkaitan dengan unggahan media sosial yang memicu ketidakpuasan pihak berwenang Iran di tengah situasi perang.
Ketidakpastian mengenai keikutsertaan Iran sebenarnya sempat muncul beberapa bulan lalu ketika Menteri Olahraga Iran menyatakan bahwa partisipasi dalam Piala Dunia mungkin sulit diwujudkan.
Namun Federasi Sepak Bola Iran tetap melanjutkan persiapan dan memastikan tim nasional akan hadir di turnamen tersebut.
Federasi juga sebelumnya menegaskan bahwa seluruh pemain dan staf, termasuk mereka yang pernah menjalani wajib militer atau memiliki hubungan administratif dengan IRGC, seharusnya memperoleh hak yang sama dalam proses pengajuan visa.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana urusan olahraga internasional semakin sulit dipisahkan dari dinamika politik global.
Di tengah ambisi Iran untuk bersaing di panggung sepak bola dunia, persoalan visa dan hubungan diplomatik masih menjadi tantangan yang harus mereka hadapi bahkan sebelum peluit pertama pertandingan dibunyikan.***