Musisi papan atas asal Inggris, Ed Sheeran, menyampaikan permohonan maaf terbuka di hadapan puluhan ribu penggemarnya usai diterpa krisis politik terhebat sepanjang kariernya. Pernyataan tersebut dilontarkan saat membuka konser Loop Tour di Philadelphia, yang menjadi penampilan perdananya sejak rapper Macklemore dicoret dari daftar pengisi acara akibat melontarkan pernyataan tegas mendukung Palestina.
Keputusan pencoretan Macklemore memicu efek domino yang parah: seluruh artis pembuka (support acts) seperti Aaron Rowe dan Lukas Graham menyatakan walkout dari tur sebagai bentuk solidaritas, sementara harga tiket konser di AS merosot drastis hingga menyentuh angka $32 (sekitar Rp500 ribu).
“Saya tidak pernah berniat menjadi musisi aktivis, tetapi situasi ini melempar saya ke tengah-tengah perdebatan sengit tentang kebebasan berpendapat dan isu politik paling kompleks di planet ini. Minggu ini, kritik yang saya terima bukan lagi soal musik, melainkan sesuatu yang jauh lebih penting. Saya telah membuat keputusan-keputusan sulit—dan saya mengakui telah melakukan kesalahan. Saya sangat, sangat meminta maaf,” ujar Sheeran di atas panggung.
Buka Suara Soal Palestina dan Gaza: “Ini Isu Kemanusiaan”
Di tengah sorotan publik, penyanyi lagu Shape of You itu menegaskan posisi kemanusiaannya terkait konflik di Timur Tengah. Sheeran mengutuk serangan 7 Oktober 2023 sebagai tragedi yang mengerikan, namun secara tegas menyebut kondisi hancur lebur di Jalur Gaza sebagai sesuatu yang “tidak dapat dibenarkan”.
“Hati saya hancur melihat skala kehancuran dan hilangnya nyawa warga sipil, terutama anak-anak. Ketidakadilan sistemik yang kita lihat terjadi di Tepi Barat (West Bank) tidak bisa diabaikan begitu saja. Saya tidak bisa lagi bersembunyi di balik alasan netralitas karena ini adalah isu kemanusiaan,” tambahnya.
Sheeran juga mengungkapkan kebingungannya di balik layar, mengakui bahwa ia sempat mempertimbangkan untuk membatalkan seluruh sisa tur dunia ini, bahkan mempertanyakan masa depannya sebagai seorang seniman.
Awal Mula Kontroversi: Boikot Miliarder AS dan Pencoretan Macklemore
Prahara politik ini bermula pada awal September 2026, ketika Macklemore membawakan lagu yang didedikasikan untuk pejuang Palestina di panggung dan menyebut jatuhnya puluhan ribu korban jiwa di Gaza sebagai bentuk genosida.
Merespons aksi tersebut, pemilik tim NFL New England Patriots sekaligus pemilik Gillette Stadium di Boston, Robert Kraft, melarang keras Macklemore untuk tampil di fasilitas miliknya dan menuduh sang rapper menyebarkan ujaran kebencian.
Demi menyelamatkan izin penggunaan stadion, promotor tur Messina Touring Group mengambil langkah drastis dengan mendepak Macklemore dari tur. Namun, keputusan tersebut dinilai oleh rekan-rekan musisi lain sebagai pembungkuman terhadap kebebasan berekspresi (free speech), yang berujung pada aksi pengunduran diri massal para artis pendukung.
Meski gelombang protes terlihat di luar area stadion Philadelphia dengan kibaran bendera Palestina, konser Ed Sheeran tetap berjalan hingga selesai di bawah pengawalan ketat.