JAKARTA – Tinggal di kawasan padat penduduk kerap membuat sebagian keluarga perkotaan tidak memiliki lahan untuk bercocok tanam. Bangunan rumah berdiri berdempetan, sementara lorong dan gang sempit menjadi ruang bersama untuk berbagai aktivitas warga. Kendati demikian, kebutuhan akan pangan bergizi tetap harus terpenuhi setiap harinya.
Kondisi tersebut mendorong PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menghadirkan Agro Urban Madani, sebuah program ketahanan pangan yang memanfaatkan ruang terbatas di kawasan padat penduduk untuk budidaya sayuran dan pelbagai komoditas pangan lainnya.
Bagi para nasabah PNM Mekaar yang bermukim di lingkungan padat, menanam sayuran bukan lagi sebatas niat. Ketiadaan halaman belakang atau sebidang tanah kosong kini disiasati dengan penerapan sistem hidroponik, sehingga budidaya tanaman dapat memanfaatkan sudut ruang yang ada di sekitar tempat tinggal.
Lorong yang sehari-hari menjadi jalur lalu lalang warga kini disulap menjadi area hijau produktif. Ruang komunal pun bertransformasi menjadi sarana belajar merawat tanaman secara bersama-sama, dengan hasil panen yang dapat langsung dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
Manfaat nyata dari program ini dirasakan langsung oleh Ibu Dewi, seorang nasabah PNM Mekaar di Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok. Bersama anggota kelompoknya, ia merawat tanaman pakcoy, kangkung, dan bayam di lingkungan permukimannya. Seluruh proses dilakukan bergotong royong, mulai dari masa tanam, perawatan, hingga panen. Saat panen tiba, sayuran segar yang tumbuh hanya beberapa langkah dari rumah bisa dibawa pulang untuk kebutuhan dapur.
“Alhamdulillah, sekarang jadi ada kegiatan positif yang bisa dilakukan bareng ibu-ibu. Kalau sudah panen biasanya bisa dibawa pulang untuk dimasak buat keluarga. Lumayan banget jadi hemat uang belanja,” ujar Dewi.
Pengalaman Dewi menjadi salah satu gambaran keberhasilan Agro Urban Madani. Saat ini, program tersebut telah hadir di 10 titik lokasi dan menjangkau ratusan nasabah PNM Mekaar. Pengelolaannya secara aktif melibatkan para nasabah dalam kegiatan budidaya, sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan ruang publik di pemukiman secara produktif.
Direktur Utama PNM, Kindaris, meyakini bahwa program ketahanan pangan ini dapat menjadi wadah edukasi bagi nasabah untuk belajar mandiri secara pangan serta memacu produktivitas harian.
“Pengetahuan tentang budidaya dapat dibagikan, proses dari menanam sampai memanen menjadi aktivitas yang memperkuat semangat gotong royong, bahkan hasilnya bisa dijual untuk menambah pendapatan harian. Konsep ini sangat sejalan dengan semangat pemberdayaan PNM,” jelas Kindaris.
Bagi PNM, langkah ini merupakan wujud nyata pemberdayaan yang menyentuh langsung kehidupan sehari-hari nasabah. Ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari hamparan lahan pertanian yang luas. Di tengah padatnya arsitektur kota, sumber pangan bergizi tetap dapat tumbuh dekat dari rumah dan dinikmati bersama keluarga.